PADA akhir September 2026, pelajar SMA di sejumlah kawasan pinggiran Paris mulai memblokade sekolah mereka. Tuntutannya sederhana: tambah guru, perbaiki fasilitas, dan berikan pendidikan yang layak. Mereka tidak sedang menuntut pergantian pemerintahan, tetapi ingin memperoleh hak belajar yang semestinya.
Gerakan itu segera meluas ke berbagai kota, bahkan menjangkau sekolah-sekolah bergengsi. Snapchat menjadi ruang koordinasi, sedangkan TikTok dan Instagram memperluas solidaritas.
Ada kejadian menggelikan di tengah gelombang demonstrasi pelajar SMA di Perancis sepanjang Oktober 2026. Ketika para pelajar menggunakan Snapchat, TikTok, dan berbagai aplikasi percakapan untuk mengoordinasikan blokade sekolah serta aksi protes, beredar tangkapan layar percakapan dari sebuah akun bernama ”Mamadou”.
Pesan tersebut menggunakan campuran bahasa gaul, istilah Arab, dan emoji bendera Aljazair. Salah satu kalimatnya berbunyi ”bismillah, c'est les ténèbres”. Artinya, kira-kira ”bismillah, inilah kegelapan”. Disertai ungkapan seperti wallah dan mon frère.
BACA JUGA:AI dan Kekuasaan Dunia
BACA JUGA:Ketika Kritik Dianggap Dosa, Kekuasaan Justru Kehilangan Cermin
Gaya bahasa yang terkesan berlebihan dan janggal itu segera menarik perhatian pengguna media sosial. Banyak yang menganggapnya sebagai contoh lucu bagaimana bahasa remaja ditiru tanpa memahami konteks sosial dan budayanya.
Hal itu menyebar luas dan berkembang menjadi meme serta parodi di kalangan pengguna internet di Prancis. Spanduk demonstrasi pun memunculkan itu, apalagi diamplifikasi oleh Greta Thurnberg, aktivis muda yang turut mendukung aksi pelajar Prancis itu.
Fenomena tersebut memperlihatkan sesuatu yang menarik dalam budaya digital bahwa bahasa bukan sekadar kumpulan kosakata yang dapat ditiru begitu saja. Ada pengalaman bersama, identitas kelompok, dan pemahaman terhadap konteks yang terus berubah.
Ketika unsur-unsur tersebut tidak dipahami, sebuah pesan yang dimaksudkan untuk membangun kedekatan justru dapat menghasilkan respons yang sama sekali berbeda.
BACA JUGA:Paradoks Diksi Kekuasaan dan Kesantunan Berbahasa di Ruang Publik
BACA JUGA:Ketika Islam Dilekatkan kepada Kekuasaan
Ketika Kekuasaan Ditertawakan
Pemikir Rusia Mikhail Bakhtin dalam Rabelais and His World (1984) menjelaskan konsep carnivalesque, yakni pembalikan sementara hierarki sosial melalui humor dan parodi. Mereka yang biasanya berkuasa dan ditakuti dapat berubah menjadi objek tertawaan.
Dalam budaya digital, meme memungkinkan pembalikan simbolis serupa. Pejabat, aparat, bahkan institusi negara dapat kehilangan wibawa komunikasinya hanya melalui sebuah gambar atau lelucon yang menyebar luas. Meme bukan sekadar hiburan.