BACA JUGA:Prabowo Ungkap Baca Buku 'Warrior of the Light' Karya Paulo Coelho saat di Masa Sulit, Mengapa?
Kasus itu memperlihatkan bahwa tuduhan penggunaan AI dapat menimbulkan konsekuensi serius. Terutama bagi perjalanan sebuah buku. Bahkan ketika karya tersebut telah mendapatkan perhatian pembaca.
Sebuah laporan yang diterbitkan tahun lalu memperingatkan satu hal yang memprihatinkan. Bahwa novel yang sepenuhnya ditulis manusia berpotensi menjadi barang mewah. Harganya akan semakin mahal.
Dr. Clementine Collett menyebut pasar kreatif dapat terbagi menjadi beberapa tingkatan. Dengan hanya sebagian masyarakat yang mampu membeli karya yang ditulis manusia.
Menurut laporan tersebut, fiksi bergenre seperti roman, thriller, dan kriminal dinilai lebih rentan tergeser oleh AI. Berbeda dibandingkan karya sastra yang dianggap lebih serius.
BACA JUGA:Baca Buku Bareng, Cara Komunitas Rabo Sore Ajak Mahasiswa Baru Cintai Sastra Indonesia
Hal itu dikaitkan dengan struktur cerita genre tersebut yang cenderung mengikuti pola tertentu. Perkembangan itu menimbulkan pertanyaan.
Mengenai masa depan profesi penulis, nilai karya orisinal, dan peran teknologi dalam industri penerbitan. Di satu sisi, AI dapat membantu penelitian dan mendukung proses kreatif.
Namun, penerbit seperti Bloomsbury tetap menghadapi tantangan. Mereka harus memastikan teknologi tersebut tidak menggantikan kreativitas manusia.
Sebab, kreativitas dan imajinasi manusialah yang merupakan inti dari sebuah karya sastra. (*)