Selain menemukan celah pada sistem pemantauan, para peneliti mengidentifikasi potensi cara bagi agen Codex milik OpenAI untuk melewati pembatasan keamanan.
Jika dieksploitasi, celah tersebut berpotensi memungkinkan agen bertindak. Ia menggunakan seluruh hak akses yang dimiliki penggunanya.
BACA JUGA:OpenAI dan Microsoft Digugat Seattle Times serta Newsday soal Hak Cipta di New York
BACA JUGA:OpenAI Tahan Pelatihan Model AI Terbesar Usai Insiden Keamanan Siber
Temuan itu menyoroti tantangan dalam memastikan agen AI tetap beroperasi sesuai batasan keamanan yang ditetapkan.
Meski demikian, laporan tersebut tidak menyatakan bahwa kerentanan itu telah dieksploitasi dalam penggunaan nyata.
Temuan yang disampaikan berfokus pada potensi kelemahan yang teridentifikasi selama pengujian.
Evaluasi oleh pihak luar semakin dipandang sebagai salah satu cara terbaik. Dengan itu, teknologi AI dapat dikembangkan secara aman. Tanpa menghambat kemajuannya.
BACA JUGA:OpenAI Ditinggal Sejumlah Eksekutif Senior di Tengah Ambisi Besar Perusahaan
BACA JUGA:OpenAI Luncurkan GPT-Live-1, Bikin Percakapan Suara ChatGPT Lebih Natural dan Responsif
Sejumlah perusahaan AI, pakar, dan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut mendukung pendekatan tersebut.
Namun, evaluasi independen juga menghadirkan persoalan tersendiri. Perusahaan AI memiliki kekhawatiran khusus.
Terutama terkait peneliti yang bekerja di lingkungan internal mereka. Para peneliti itu bisa saja membawa informasi eksklusif ke perusahaan pesaing, sebagaimana dilaporkan Reuters awal Oktober 2026.
Ditemukan kerentanan dalam sistem pemantauan internal OpenAI. Namun, OpenAI menyatakan telah menambal seluruh kerentanan itu.-JOEL SAGET-AFP-
OpenAI menerima laporan internal lengkap setebal 61 halaman. Akan tetapi, METR dan Redwood sepakat hanya menerbitkan ringkasan umum kepada publik. Serta memberikan hak kepada OpenAI untuk menyunting informasi sensitif.
BACA JUGA:OpenAI Siapkan Revolusi ChatGPT, Bakal Jadi Superapp AI dengan Agen Pintar