Memprioritaskan Kesehatan Para Santri

Minggu 25-10-2026,20:39 WIB
Oleh: Dominicus Husada*

Berdasarkan pengalaman, pengobatan lebih banyak dilakukan secara individual, tetapi dengan tidak banyak memodifikasi aspek lingkungan. Di masa mendatang, Kementerian Kesehatan, dinas kesehatan setempat, serta lingkungan tinggal para santri disarankan untuk lebih memprioritaskan penanganan penyakit skabies itu.

BACA JUGA:Menjaga Pesantren, Melindungi Santri: Pelajaran dari Lombok Tengah

BACA JUGA:Santri dan Jalan Sunyi Toleransi

Hal kedua yang menjadi persoalan di lingkungan santri adalah cakupan imunisasi. Sebagian besar santri masih berusia anak dan remaja. Kelompok itu merupakan salah satu yang perlu memperoleh perlindungan melalui imunisasi. 

Kementerian Kesehatan secara aktif melakukan Bulan Imunisasi Anak Sekolah, baik di sekolah umum maupun sekolah keagamaan seperti pondok pesantren. Imunisasi yang diberikan untuk kelompok usia tersebut mencakup penyakit difteri, tetanus, campak, rubela, dan imunisasi untuk mencegah kanker leher rahim. 

Sayang sekali, selama pandemi cakupan imunisasi di seluruh dunia sangat menurun, termasuk pada anak sekolah. Alhasil, sepanjang dua tahun terakhir kita berkali-kali dihantam oleh wabah berbagai penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi. 

Saat ini jumlah kasus dari beberapa penyakit seperti difteri, pertusis, campak, dan sebagainya, bahkan melampaui situasi sebelum Covid-19 menyerang. Hingga hari ini, jumlah kasus beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di Indonesia menempati peringkat atas di dunia atau minimal di Asia. Upaya keras diperlukan untuk memperbaiki keadaan tersebut.

Di sebagian provinsi, beberapa institusi kemungkinan juga enggan menerima program pemerintah, seperti imunisasi, masuk ke lingkungannya dalam waktu yang sudah cukup lama. Pada situasi tersebut, ada ribuan orang yang seharusnya diimunisasi ternyata luput dan sangat berpotensi terkena penyakit maupun menjadi sumber penular penyakit. 

Para santri tersebut, yang kemudian kembali ke daerah masing-masing, dalam jumlah yang sangat besar, patut menjadi salah satu prioritas dalam perbaikan upaya kesehatan di negeri ini. Imunisasi sangat bergantung pada tingginya cakupan. Hasil maksimal akan sulit dicapai bila orang yang diimunisasi hanya sedikit.

Pendekatan untuk menaikkan derajat kesehatan para santri sangat mungkin sedikit berbeda dengan orang awam lainnya. Strategi promosi kesehatan melalui jalur agama biasanya bisa dipertimbangkan sesuai dengan kondisi dan situasi setempat. Modal dasar tentunya adalah ajaran agama itu sendiri. 

Memang strategi tersebut bukan suatu hal yang mudah dan jelas membutuhkan sumber daya manusia, dana, materi, dan program yang mumpuni. Pengalaman di beberapa negara yang telah mencatatkan keberhasilan yang tinggi dalam bidang imunisasi di lingkungan sekolah keagamaan seperti di negara maju dan di wilayah Timur Tengah mungkin bisa dijadikan contoh. Seluruh negara Teluk sangat aktif melaksanakan program imunisasi. 

Memang harus diakui, tidak ada satupun negara di dunia yang tidak menjalankan kegiatan imunisasi. Dewasa ini pemerintah kita sudah menyediakan anggaran dan sumber daya lain melalui jalur Kemenkes, Kemendagri, dan Kemenag, selain yang disiapkan oleh pemerintah daerah setempat. 

Yang barangkali perlu ditingkatkan adalah keterpaduan program. Hal itu sudah tampak berhasil ketika menghadapi pandemi dan semestinya juga bisa berhasil dalam situasi lainnya.

Dengan posisi yang strategis, santri di Indonesia harus mampu menjadi generasi yang unggul di masa depan. Salah satu unsur yang patut mendapat perhatian untuk perbaikan terus menerus adalah di sektor kesehatan. 

Jika hal ini bisa dicapai, bukan hanya individu para santri yang akan mendapat kebaikan, melainkan juga lingkungan sekitar. Sebab, pada hakikatnya kelompok prioritas itu berpotensi menjadi penentu perbedaan di masa depan. (*)

*) Dominicus Husada adalah guru besar PD3I dan imunisasi FK Unair/RSUD dr. Soetomo Surabaya serta dokter anak, konsultan penyakit infeksi dan tropik. 

Kategori :