Proses tersebut ternyata juga memengaruhi gen LINC00662. Pada simpanse, gen tersebut tidak aktif. Sedangkan pada manusia aktivitasnya berkaitan dengan perkembangan awal otak.
Jakobsson menyebut temuan itu penting. Karena peneliti dapat memahami bagaimana pengaturan aktivitas gen dapat memengaruhi perkembangan otak.
BACA JUGA:Vaksin Hantavirus Andes Hampir Siap, Penelitian Terhenti karena Kekurangan Dana
BACA JUGA:Enam Penumpang Kapal Pesiar Hantavirus Dipulangkan ke Australia
Perbedaan manusia dan simpanse, menurut penelitian tersebut, tidak hanya terletak pada susunan gen yang dimiliki. Tetapi juga pada cara gen-gen tersebut diaktifkan atau dinonaktifkan.
Untuk menyelidiki pengaruh sisa virus tersebut, para peneliti menggunakan sel punca. Baik pada manusia dan simpanse.
Sel itu digunakan untuk membuat organoid otak. Organoid merupakan struktur tiga dimensi berukuran kecil.
Menyerupai jaringan otak. Itu dapat digunakan untuk mempelajari sejumlah karakteristik perkembangan otak tahap awal.
BACA JUGA:WHO Pastikan Tidak Ada Kematian Baru akibat Hantavirus
BACA JUGA:Dosen FK Ubaya Ungkap Faktor Penyebaran Hantavirus dan Langkah Pencegahan
Perbandingan kedua model menunjukkan satu hal. Bahwa gen LINC00662 aktif pada organoid otak manusia. Tetapi sepenuhnya terbungkam pada organoid simpanse.
Para peneliti kemudian menggunakan teknologi penyuntingan gen CRISPR-Cas9. Dengan tujuan menghilangkan urutan DNA virus dari sel simpanse. Setelah sisa virus tersebut dihapus, gen LINC00662 kembali aktif.
Hasilnya, penyisipan materi genetik virus merupakan penyebab gen tersebut dinonaktifkan pada simpanse.
Penelitian selanjutnya menguji fungsi LINC00662 pada organoid otak manusia. Ketika para peneliti menggunakan CRISPR untuk membungkam gen tersebut, ada kecenderungan menarik.
BACA JUGA:Wamenkes Dante Pastikan Hantavirus di Indonesia Tidak Sebabkan Pandemi