Semangat Sumpah Pemuda semestinya mengubah cara pemerintah, kampus, dan dunia usaha memperlakukan anak muda. Selama ini mereka lebih sering diundang ke upacara dan seminar motivasi. Mereka jarang dipercaya mengerjakan sesuatu yang sungguh-sungguh.
Anak muda yang ingin bertani butuh akses lahan, teknologi, dan pasar. Mereka yang ingin berbisnis butuh pembiayaan yang sehat dan perizinan yang tidak berbelit. Mereka yang punya gagasan teknologi butuh ruang uji coba dan pembimbing. Tanpa itu semua, ajakan ”jadilah pencipta lapangan kerja” hanya terdengar seperti cara sopan untuk berkata ”carilah sendiri”.
Organisasi kepemudaan juga perlu keluar dari rutinitas seremonial. Kepemimpinan muda tidak selalu diukur dari jabatan atau kefasihan berpidato. Kemampuan menciptakan pekerjaan bagi orang lain adalah bentuk kepemimpinan yang sama pentingnya.
Dua tahun lagi Sumpah Pemuda genap berusia satu abad. Generasi 1928 menyatukan bangsa yang belum merdeka. Generasi sekarang ditantang membuktikan bahwa bangsa yang sudah merdeka harus terus dirawat melalui pengetahuan dan kerja bersama.
Namun, kita juga perlu adil. Jangan hanya meminta kaum muda mencintai Indonesia. Pastikan Indonesia juga memberi mereka tempat untuk bekerja. Nasionalisme memang harus dikerjakan, bahkan ketika tidak ada kamera yang merekam. Namun, nasionalisme akan jauh lebih mudah dikerjakan oleh anak muda yang punya pekerjaan. (*)
*) Gagas Gayuh Aji adalah dosen Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga.