Sumpah Pemuda: Dari Sumpah Persatuan Menuju Ujian Peradaban

Selasa 27-10-2026,22:07 WIB
Oleh: Ulul Albab*

Kita dapat menyerukan persatuan, tetapi seruan tersebut menjadi kosong apabila kritik dianggap sebagai permusuhan dan kekuasaan tidak bersedia dikoreksi.

Persatuan yang sehat bukan persatuan yang membungkam pertanyaan. Sebaliknya, ia memerlukan keberanian untuk mengakui kekurangan dan memperbaiki keadaan.

Dunia Makin Dekat, Mengapa Kita Mudah Terpecah?

Tantangan itu makin rumit dalam era digital. Jarak geografis menyusut, informasi bergerak seketika, dan jutaan orang dapat berkomunikasi melintasi batas dalam hitungan detik. Data APJII tahun 2025 yang dikutip Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai sekitar 229,4 juta orang, dengan tingkat penetrasi 80,66 persen.

Namun, keterhubungan tidak selalu berarti kedekatan. Kita bisa terhubung dengan jutaan orang, tetapi hanya mendengarkan mereka yang sependapat. 

Kita bisa memperoleh informasi tanpa batas, tetapi terjebak dalam kabar bohong, provokasi, dan ruang gema yang terus menguatkan prasangka sendiri. Teknologi yang seharusnya memperluas perjumpaan justru dapat mempersempit cara kita memahami orang lain.

Di ruang digital, perbedaan pendapat kerap berubah menjadi penghinaan. Potongan informasi lebih cepat menyebar daripada pemeriksaan fakta. Orang dinilai dari identitas dan afiliasinya sebelum gagasannya sungguh-sungguh dipahami. 

Dalam keadaan seperti itu, ancaman terhadap persatuan tidak selalu datang dalam bentuk konflik terbuka. Ia dapat tumbuh perlahan melalui kebiasaan merendahkan, menyebarkan kebencian, dan menolak mendengar.

Karena itu, tantangan generasi muda hari ini bukan sekadar menguasai teknologi. Mereka juga harus memiliki kecakapan memilah informasi, kedewasaan berdialog, keberanian memeriksa kebenaran, dan tanggung jawab atas apa yang disebarkan. Kebebasan berekspresi perlu dijaga, tetapi kebebasan itu tidak membebaskan siapa pun dari tanggung jawab moral.

Sumpah yang Harus Diwujudkan

Peringatan Sumpah Pemuda seharusnya menjadi kesempatan untuk menguji diri, tidak hanya mengenang pendahulu. Apakah pendidikan telah membuka kesempatan yang layak bagi anak-anak dari berbagai latar belakang? 

Apakah generasi muda memperoleh ruang untuk berpartisipasi, bekerja, berkarya, dan menentukan masa depan? Apakah ruang publik kita memberikan tempat bagi perbedaan yang sehat? Apakah kebijakan negara sungguh-sungguh memperkuat rasa keadilan dan kepemilikan bersama atas Indonesia?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat dijawab dengan upacara. Jawabannya harus direalisasikan dalam kebijakan yang adil, pendidikan yang bermutu, kesempatan kerja yang lebih luas, penegakan hukum yang tidak diskriminatif, serta ruang digital yang menghargai kebenaran dan martabat manusia.

Para pemuda 1928 telah menunjukkan bahwa persatuan memerlukan visi, keberanian, dan kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas sekat-sekat kelompok. 

Generasi sekarang menghadapi tantangan berbeda, tetapi tanggung jawab dasarnya tetap sama, yaitu memastikan bahwa Indonesia bukan sekedar nama yang kita banggakan, melainkan rumah bersama yang layak dihuni semua warganya.

Maka, Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai kalimat yang kita hafalkan setiap Oktober. Ia harus menjadi ukuran untuk menilai tindakan kita sepanjang tahun. Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak memiliki perbedaan, melainkan bangsa yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan keadilan dan kemanusiaannya.

Tags :
Kategori :

Terkait