Menjelajah Lautan Teduh (34): Harapan Diaspora pada Misi Kesehatan

Rabu 28-10-2026,13:45 WIB
Reporter : Doan Widhiandono-Rizkya Dwijayanti
Editor : Noor Arief Prasetyo

Kegiatan pelayanan kesehatan Satgas Terpadu Port Visit 2026 di Honiara, Kepulauan Solomon, tidak hanya dirasakan dampaknya oleh warga setempat. Para diaspora Indonesia yang berdiam di negara kawasan Pasifik Selatan itu pun ikut girang.

ADALAH Irfan Arifin, salah seorang WNI yang ikut berkunjung ke KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991. Bahkan, pria asli Pandeglang, Banten, itu termasuk yang paling rajin berkunjung saat kapal tersebut bersandar di Point Cruz International Wharf, Honiara.

Ipan, sapaannya, sudah datang ke kegiatan open ship saat kapal milik TNI-AL itu bersandar pada 18 Oktober 2026. Bahkan, di hari pertama kedatangan satgas tersebut, Ipan langsung mengajak dua dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Rizkya Dwijayanti dan Doan Widhiandono, untuk berjalan-jalan ke Honiara. Kami diajak oleh Ludfi, mahasiswa Prodi Teknik Arsitektur Untag Surabaya, yang lebih dulu berkenalan dengan Ipan. Kami pergi pula bersama Anna Ma, istri Ipan, yang asli Kepulauan Solomon.

Sesorean, kami mengunjungi toko suvenir, makan siang, mengunjungi masjid Honiara, sampai mengunjungi Hammock Beach yang indah di tepi Samudera Pasifik. 

BACA JUGA:Menjelajah Lautan Teduh (33): Para Diaspora Kangen, Pacific Warrior Untung Gede

BACA JUGA:Tim PkM Untag Surabaya Kembangkan Digital Heritage Tari Tradisional di Sanggar Mugi Lestari

Setelah itu, Ipan kerap bermain ke kapal. Ternyata, ia harus memeriksakan kesehatan anak pertamanya yang berumur dua tahun. ’’Perlu CT Scan. Dan di Solomon enggak ada,’’ katanya kepada Rizkya Dwijayanti.

Ipan juga perlu memeriksakan sang istri yang tengah hamil anak keduanya. Dan memang, peranti medis di KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991 cukup komplet. CT Scan, USG, plus dokter dan paramedis yang menekuni kebidanan, siap membantu Ipan. Juga melayani warga Honiara yang terus menerus menjejali kapal.

Selama dua hari pelayanan kesehatan, terhitung 661 pasien yang dilayani. ’’Kami sangat bangga satgas ini bisa optimal bekerja di sini. Kami pun mengucapkan terima kasih kepada pemerintah pusat sehingga misi ini bisa terlaksana,’’ kata Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasah Penuh untuk Papua Nugini dan Kepulauan Solomon Okto Dorinus Manik ketika melepas keberangkatan satgas tersebut menuju Papua Nugini, 22 Oktober 2026.

Rasa terima kasih Ipan kepada satgas itu pun kembali ditunjukkan dengan mengajak Rizkya Dwijayanti serta Ludfi berjalan-jalan pada Selasa, 20 Oktober 2026. Mereka mengelilingi Honiara, mengunjungi pasar tradisional, hingga mampir ke mess WNI yang bekerja di Top Timber, perusahaan kayu kelas atas di Honiara.


SUASANA HANGAT di mess warga Indonesia yang bekerja di Top Timber. Dari kiri, Irfan Arifin, Anna Ma, dan Rizkkya Dwijayanti.-SATGAS TERPADU PORT VISIT 2026-

Mess itu berada di dalam areal pabrik. Sekitar 60 WNI pekerja Top Timber tinggal di tempat itu. Bersama keluarganya. Rizkya dan Ludfi juga sempat berbincang hangat di ruang tamu komunal bangunan kayu setinggi tiga lantai itu.

Sepanjang hari itu, Ivan bercerita panjang lebar tentang pengalamannya tinggal di Kepulauan Solomon selama 13 tahun. Meniti karir hingga mencapai jabatan manajer penjualan di Top Timber.

’’Dulu, saya bekerja di Solomon karena ditipu teman. Katanya diajak kerja di Australia. Eh, ternyata ke Solomon,’’ ujar Ipan.

Apa pun, Ipan telanjur kerasan. Apalagi, anak dan istrinya memang asli Solomon. Meski demikian, rasa cintanya kepada Indonesia tak tergantikan. Ipan bisa sangat bersemangat membela Indonesia saat ada orang Solomon menyerukan isu Papua merdeka, misalnya. Ipan bisa melawan, bahkan berdebat, soal narasi yang merongrong kedaulatan Indonesia itu.

Kategori :