Beri Aku Sepuluh Pemuda

Sabtu 31-10-2026,07:33 WIB
Reporter : Dhimam Abror Djuraid
Editor : Yusuf Ridho

”BERI aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Kita hafal ungkapan itu dari pidato Bung Karno. Ungkapan tersebut bukan sekadar kekaguman terhadap anak muda. Ia adalah pengakuan tentang kekuatan anak muda dalam sejarah. 

Masa depan bangsa tidak ditentukan oleh besarnya sumber daya, kekuatan bedil, atau kemapanan kekuasaan, tetapi juga oleh keberanian, imajinasi, dan daya juang anak mudanya.

Dua tahun lagi, pada 2028, Indonesia akan memperingati satu abad Sumpah Pemuda. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang suku, agama, dan daerah menyatakan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. 

Mereka belum punya negara merdeka, tetapi telah memiliki sesuatu yang lebih mendasar, yakni keberanian membayangkan sebuah bangsa yang belum terwujud. Indonesia, dengan demikian, bukan hanya warisan sejarah, melainkan juga hasil sebuah keberanian kolektif kaum muda.

BACA JUGA:Menafsir Ulang Sumpah Pemuda di Tengah Bingkai Kebenaran Digital

BACA JUGA:Patriotik, Gigih, Berempati: Siapa Yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pemuda?

Ben Anderson dalam Revolusi Pemuda (1988) menunjukkan betapa pentingnya peran generasi muda dalam revolusi Indonesia. Kaum muda bukan sekadar pengikut yang menunggu keputusan elite politik. 

Mereka merupakan kekuatan yang mendorong sejarah bergerak. Ketika generasi sepuh masih berhitung dengan kompromi dan kehati-hatian, anak muda berani mengambil keputusan tegas. 

Dalam pergolakan menjelang dan sesudah Proklamasi 1945, desakan kaum muda turut menentukan momentum politik bangsa. Mereka memahami bahwa kemerdekaan tidak cukup ditunggu. Kemerdekaan harus direbut. Diperjuangkan.

Semangat itu berulang dalam berbagai zaman. Mas TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar), KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia), dan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) menjadi bagian dari mata rantai panjang keterlibatan pemuda, pelajar, dan mahasiswa dalam perjuangan Indonesia. 

BACA JUGA:Pemuda dan Nasionalisme Organik: Refleksi Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026

BACA JUGA:Sumpah Pemuda: Setelah Orasi

Dari pelagan pertempuran mempertahankan kemerdekaan hingga gelombang demonstrasi yang ikut mengubah lanskap politik nasional, sejarah memperlihatkan bahwa ketika ruang perubahan menyempit, anak muda kerap tampil sebagai pembuka jalan. 

Anak muda mungkin tidak selalu memiliki kekuasaan, tetapi mempunyai energi, idealisme, dan keberanian untuk mempertanyakan kekuasaan.

Hari ini fenomena serupa terlihat di berbagai belahan dunia. Gerakan anak muda di Nepal memperlihatkan bagaimana generasi baru dapat menantang kemapanan politik dan menuntut pertanggungjawaban penguasa. 

Kategori :