Di Prancis dan sejumlah negara Eropa, demonstrasi yang melibatkan kaum muda mencerminkan kegelisahan terhadap kebijakan pemerintah, ketidakpastian ekonomi, ketimpangan sosial, serta masa depan yang terasa makin tidak pasti.
BACA JUGA:Sumpah Pemuda: Dari Sumpah Persatuan Menuju Ujian Peradaban
BACA JUGA:Sumpah Pemuda dan Nasionalisme yang Bekerja
Di berbagai negara, media digital memungkinkan keresahan yang semula terpisah menemukan bahasa dan solidaritas bersama. Anak muda tidak selalu berhasil memenangkan tuntutannya, tetapi mereka mampu memaksa masyarakat dan penguasa mendengar pertanyaan yang sebelumnya diabaikan.
Bagaimana dengan Indonesia? Idealisme yang dahulu menggerakkan generasi pendahulu telah kabur. Mungkin bermetamorfosis mencari bentuk baru.
Generasi muda sekarang menghadapi tantangan yang berbeda. Mereka hidup di tengah tekanan ekonomi, mahalnya pendidikan, terbatasnya kesempatan kerja, serta derasnya arus informasi yang sering kali mencampuradukkan fakta, propaganda, dan disinformasi.
Aktivisme mahasiswa pun menghadapi risiko kooptasi. Gerakan yang semula kritis dapat dijinakkan melalui kedekatan dengan kekuasaan, kepentingan politik praktis, atau perebutan popularitas. Tidak semua mahasiswa apatis, tetapi tidak pula semua gerakan mahasiswa bebas dari infiltrasi.
BACA JUGA:Gerakan Semesta Pemuda Melawan Korupsi
BACA JUGA:Sumpah Pemuda dan Kisah Lain Mencari Format Bahasa Nasional
Di sisi lain, ruang demokrasi menghadirkan tantangan serius. Demonstrasi dapat menghadapi tekanan di lapangan, sedangkan suara kritis kehilangan jangkauan di media konvensional.
Di media sosial, pembatasan jangkauan atau shadow banning juga menimbulkan kekhawatiran tentang siapa yang menentukan suara mana yang terlihat dan mana yang tenggelam. Kebebasan berekspresi kehilangan maknanya apabila kritik boleh disampaikan, tetapi sengaja atau tidak sengaja dibuat tidak terdengar.
Perubahan bentuk perjuangan tidak selalu berarti hilangnya keberanian. Gerakan masa kini mungkin tidak lagi berpusat di satu kampus, satu organisasi, atau satu panggung demonstrasi.
Ia dapat tumbuh melalui komunitas warga, gerakan lingkungan, advokasi buruh, jurnalisme independen, solidaritas digital, dan keberanian melawan korupsi.
Tantangannya adalah mengubah kemarahan sesaat menjadi organisasi yang konsisten, tuntutan yang terukur, serta gerakan yang mampu bertahan setelah sorotan media mereda.
Menjelang satu abad Sumpah Pemuda, Indonesia membutuhkan generasi yang tidak sekadar mewarisi nama besar para pendahulunya, tetapi juga punya keberanian untuk menciptakan masa depan.
Sepuluh pemuda mungkin tidak cukup untuk mengguncangkan dunia. Namun, sepuluh pemuda yang sadar, berani, terorganisasi, dan berpihak kepada rakyat dapat menyalakan api perubahan yang menjalar ke seluruh penjuru negeri. (*)