Saya kira jawabannya harus dimulai dari keberanian melihat diri sendiri. Nama besar NU memang bisa mengundang kepercayaan. Namun, kepercayaan itu harus dijawab dengan mutu. Orang tua menitipkan anaknya untuk memperoleh pendidikan yang baik. Untuk mendapatkan bekal hidup. Bukan sekadar menambah jumlah warga NU yang bergelar sarjana.
BACA JUGA:Kelas Baru NU
BACA JUGA:Tongkat NU
Di situlah pekerjaan rumah kita. Kecintaan kepada jam’iyah harus diterjemahkan menjadi kesungguhan mengurus kampus. Mengurus dosennya. Memperbaiki pembelajarannya. Menata keuangannya. Juga, memastikan mahasiswanya benar-benar belajar.
Saya mulai merasakan itu sejak mendapat amanah di UNU Blitar. Banyak hal harus dibangun bersamaan. Padahal, kemampuan terbatas. Keinginan bergerak cepat harus bertemu dengan kenyataan sehari-hari. Ada kebutuhan ruang kuliah. Ada pengembangan dosen. Ada pula urusan kelembagaan yang harus dibereskan.
Karena itu, saya menempatkan tata kelola sebagai fundamen. Harus jelas siapa mengerjakan apa. Apa kewenangan BPP. Apa tanggung jawab rektorat. Bagaimana keputusan dibuat. Bagaimana pelaksanaannya diawasi. Kalau semua merasa bisa mengurus semuanya, justru sulit meminta pertanggungjawaban.
Hubungan personal tetap penting. Apalagi, di lingkungan NU yang terbiasa dengan persaudaraan. Tapi, kampus membutuhkan sistem yang tetap berjalan meski pengurusnya berganti. Kita boleh dekat sebagai sahabat. Dalam menjalankan amanah, tetap harus saling mengingatkan.
Sesudah itu, kampus harus memilih arah. Tidak mungkin semua bidang dikejar sekaligus. Apalagi sekadar mengikuti program studi yang sedang ramai. Harus ada keunggulan yang tumbuh dari lingkungan tempat kampus itu berada.
Di Blitar, saya melihat pangan sebagai salah satu pintu masuknya. Ada pertanian. Peternakan. Ada usaha pengolahan hasilnya. Ada petani dan pengusaha yang setiap hari menghadapi persoalan nyata. Kampus bisa belajar dari mereka. Lalu, bersama-sama mencari jalan keluarnya.
Itulah pikiran di balik dorongan membangun fakultas sistem pangan. Harapannya sederhana. Ilmu yang diajarkan punya hubungan dengan kehidupan di sekitarnya. Mahasiswa belajar melihat persoalan. Dosen punya ruang mengembangkan penelitian. Masyarakat merasakan manfaat kehadiran kampus.
Lantas, di mana pesantrennya?
Justru di situlah kekuatan yang harus dipertemukan. Pesantren mempunyai tradisi pembentukan watak. Ada adab. Ketekunan. Kemandirian. Juga, kedekatan dengan masyarakat. Modal yang sangat berharga ketika ilmu pengetahuan berkembang makin cepat.
Kampus membawa tradisi bertanya. Menguji. Mencari bukti. Membuka kemungkinan jawaban baru. Pertemuan keduanya bisa melahirkan sarjana yang cakap sekaligus tahu untuk siapa kecakapannya digunakan.
Tentu pertemuan tersebut tidak selalu mudah. Di ruang akademik, mahasiswa harus berani berbeda pendapat. Bertanya kepada dosennya. Menguji sebuah pandangan. Kebiasaan itu perlu dirawat tanpa kehilangan penghormatan kepada orang yang mengajarkan ilmu.
Saya membayangkan kelak makin banyak pemimpin NU lahir dari pertemuan semacam itu. Paham tradisinya. Akrab dengan perkembangan dunia. Bisa berbicara dengan petani, sekaligus mengerti perubahan teknologi. Bisa memimpin organisasi, juga mampu mengelola lembaga secara profesional.
Namun, kampus tidak bisa bekerja sendirian. Para sarjana NU yang tersebar di berbagai profesi perlu diajak pulang. Tidak harus meninggalkan pekerjaannya. Bisa dengan mengajar. Membuka tempat magang. Mendampingi penelitian. Atau, mempertemukan kampus dengan jaringan yang mereka miliki.