VISI Indonesia Emas 2045 menempatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) sebagai pilar utama transformasi bangsa. Ambisi besar untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) dan menjadi kekuatan ekonomi dunia menuntut lahirnya generasi yang adaptif, kritis, dan berdaya saing global.
Tuntutan tersebut hanya bisa diwujudkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang baik dan berkualitas di semua tingkatan.
Pemerintah berkomitmen dan terus berupaya untuk memperbaiki sektor pendidikan karena sadar bahwa itu merupakan kunci utama untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.
Beberapa capaian dalam sektor tersebut memperlihatkan peningkatan jika dibandingkan dengan periode pemerintahan sebelumnya. Namun, pemerintah juga tidak menutup mata bahwa pendidikan di Indonesia masih menghadapi permasalahan yang harus diatasi.
BACA JUGA:Anggaran Pendidikan Dipangkas Rp 7,27 Triliun, Pendidikan Dasar Indonesia Terancam!
BACA JUGA:Abdul Mu'ti Dipercaya Memimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Diskusi Panel Ahli yang diselenggarakan Kemendiktisaintek bekerja sama dengan Badan Komunikasi Pemerintah. Kegiatan itu diikuti para ahli dari berbagai perguruan tinggi pada 28–30 Oktober di Jakarta.
Diskusi kluster pendidikan dan pembangunan SDM menyoroti beberapa permasalahan pada sektor pendidikan yang masih dihadapi bangsa Indonesia saat ini.
Permasalahan sektor pendidikan di Indonesia cukup beragam. Mulai ketimpangan jumlah guru dan fasilitas, peserta didik yang kehilangan orientasi, guru yang terbebani birokrasi, hingga perguruan tinggi yang terisolasi dari kebutuhan nyata masyarakat.
Jika dicermati, terdapat perbedaan permasalahan antara pendidikan dasar dan menengah dengan pendidikan tinggi.
Ketimpangan tenaga guru dan fasilitas sebagian besar melanda pendidikan dasar dan menengah antara Jawa dan luar Jawa. Penyelenggaraan pendidikan di Jawa bisa berjalan dengan baik karena hampir seluruh sarana dan prasarana yang dibutuhkan tersedia.
Pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan belum sepenuhnya terjadi di luar Jawa, terutama di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Persoalan lain adalah adanya pergeseran psikososial akibat terpaan media sosial dan gaya hidup konsumtif. Generasi muda dihadapkan pada disrupsi informasi yang mengonstruksi ekspektasi keliru bahwa ”sekolah adalah jalan pintas untuk cepat kaya”.
Ketika realitas dunia kerja menunjukkan bahwa kepemilikan gelar formal tidak lagi menjamin kepastian finansial secara otomatis, motivasi untuk melanjutkan studi akan merosot.
Banyak anak muda yang terjebak dalam disorientasi nilai: memilih mengejar popularitas instan daripada membangun fondasi keahlian yang mendalam.