Memenangi Masa Depan Dokter

Rabu 04-11-2026,21:43 WIB
Oleh: Pribakti B.*

Hal itu berujung pada lahirnya ratusan pasal peraturan yang membelit profesi  dokter. Lalu, bagaimana agar rantai lingkaran setan tersebut dapat diputus?

BACA JUGA:Rumah Sakit Pendidikan di Dunia Kedokteran

BACA JUGA:Ketika Media 'Mengadili' Profesi Dokter, Efek Buruk Generalisasi di Era Sensasi Berita

Jawabannya, dibutuhkan solidaritas positif dari para dokter untuk menjaga citra positif profesi. Yang perlu untuk diingat Kementerian Kesehatan adalah mempertahankan manusia Indonesia tetap sehat secara jasmani, rohani, dan sosial itu tidak mudah. 

Masalah kesehatan bukan hanya masalah kuratif, melainkan juga aspek promotif dan preventif. Sayang, bila ditanya bagaimana peran negara selama ini terhadap profesi dokter, baik perlindungan hukum, tunjangan, jaminan kesehatan, maupun pendidikan untuk keluarganya, bisa dikatakan masih minim. 

Realitasnya, dokter Indonesia harus berjuang sendiri untuk kesejahteraan hidup keluarganya. Mereka juga dituntut berlaku ramah terhadap pasien, memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan perhatian dengan keinginan pasien. Mereka dituntut bekerja sempurna dan tidak boleh melakukan kesalahan. 

Bila mereka melakukan walau risiko medis, mereka akan berhadapan dengan implikasi hukum yang mengancam karier, profesi, dan kehidupan mereka. Kedua kondisi paradoks tersebut menempatkan dokter pada posisi yang sulit.

Maka dari itu, ketika slide presentasi kuliah saya sudah lengkap 30, timbul rasa waswas dalam hati. Berhasilkah saya memberi para dokter muda itu bekal intelektual yang hebat? 

Memang dengan bedside teaching dan simulator, mereka akan menjadi dokter yang terampil. Namun, mana jatah kuliah untuk menjamin mereka tetap bersikap bijak dan berbudi luhur terhadap kesehatan bangsanya? Sebab, untuk berkiprah di dunia kedokteran, pintar saja tidak cukup, dokter perlu adab dan empati.

Akhirnya, saya ganti dua slide terakhir kuliah saya dengan memasukkan sumpah profesi luhur dokter, ”saya akan mengutamakan kesehatan penderita”, dalam jabaran yang bisa dimengerti oleh para ko-ass. 

Dan, slide terakhir saya tutup dengan catatan berupa take home massage untuk mereka. ”Jadilah dokter yang luhur budinya untuk selamanya mencintai Indonesia. Ikhlas pengabdiannya sekalipun hal itu tidak menjamin kesejahteraan dan kebal tuntutan mediko-legal. Tetaplah berbuat kebaikan sebesar-besarnya untuk bangsa ini”. 

Yang pasti, bila Anda seorang dokter, tataplah mata pasien Anda saat ia kesakitan, ada bayangan ketakutan di sana. Anda akan mengerti bukan hanya teknologi dan keterampilan yang mereka butuhkan. 

Mereka juga membutuhkan kasih sayang dan ketulusan. Dan, itu hanya ada di nurani Anda. Sungguh, peluang dokter untuk menjadi manusia mulia masih terbuka lebar. (*)

*) Pribakti B. adalah dokter dan pemerhati kesehatan.

 

Kategori :