Berani Gambling demi Greget

Berani Gambling demi Greget

Mengamati karya Ngurah Darma seperti menikmati musik keroncong. Semua alat musik dimainkan secara melodis. Menghasilkan harmonisasi yang unik. Pun agar aura muncul dengan kuat. Bagaimana Ngurah melakukannya?

Dua penari dalam karya Ngurah berjudul Dua Penari digambarkan tengah berbincang. Mereka bersiap untuk menari. Saat melukisnya, Ngurah tak sekadar memuat aktivitas mereka. Ia mencoba menagkap aura yang berpendar dalam bias impresif. Pencapaian estetika yang membutuhkan proses panjang, tentu.

Bagaimana caranya? ”Jika sudah bertemu dengan soul atau roh dalam melukis, tujuan mencapai hal itu akan maksimal. Saya biasa berhenti sejenak ketika melukis. Membiarkan air dalam kertas untuk bekerja. Membuat paduan warna yang tak terduga. Namun tak melenceng terlalu jauh dari prediksi,” tuturnya.

Ngurah Darma bersama salah satu karyanya dengan media akrilik di atas kanvas. Namun cat airlah yang dirasa Ngurah lebih dikuasainya. (Ngurah Darma untuk Harian Disway)

Hmmm tak bisa dicerna begitu saja agaknya bagi si awam. Yang jelas watercolorist -menurut Ngurah- selalu berkutat dengan prediksi. Sebab hasil dari kerja air dalam mengolah warna serba tak pasti. Bisa saja gagal. Bisa juga hampir sesuai prediksi. Tapi bisa jadi menghasilkan paduan warna mengejutkan. Namun justru memperkuat estetika.

”Sebenarnya kita tak pernah tahu pada batas mana percampuran warna yang dihasilkan oleh unsur air. Atau hasilnya seperti apa. Semuanya gambling,” ungkapnya. Termasuk soal manipulasi bayangan atau sorot cahaya. Seperti dalam lukisan Morning in Temple.

Ngurah melukiskan suasana pagi di lingkungan pura di pedesaan Bali. Dua orang perempuan berdiri di ruang bagian dalam pura. Cahaya matahari tampak menyorot melewati pintu gerbang, menerpa wajah dan tubuh keduanya. ”Sorotan itu pun tercipta dari gambling. Hasilnya tak saya duga tapi cukup berhasil,” ungkapnya.

Namun jauh sebelum itu dicapai, jam terbang menekuninya amatlah menentukan. Jika dihitung, Ngurah menggeluti media cat air sejak di bangku SMA. Saat itu -pikirnya, bentuknya yang lebih praktis dan tingkat kesulitan dalam menggunakan media itu justru membuatnya tertantang.

Ia pun berkelana ke berbagai tempat untuk belajar. ”Saya banyak mengamati karya para pelukis Bali. Terutama Antonio Blanco yang sangat menginspirasi saya,” ujarnya. Kekaguman itu dimulainya sejak beberapa kali ia mengunjungi museumnya di Ubud. Sungguh, ia betul-betul dibuat kagum.

Sekali dua kali ia bertemu atau berpapasan dengan pelukis yang terpikat dengan nuansa Bali itu. Darinya, Ngurah banyak belajar dari pengamatan terhadap gaya lukisan Blanco. ”Karya cat air Blanco sangat halus. Style-nya Eropa. Pemilihan warnanya bagus,” terangnya. Meskipun tanpa berguru langsung, Blanco dianggap gurunya.

Sang idola membuatnya semakin intens melukis dengan cat air. Bereksperimen dengan warna. Pada tahap awal, Ngurah berkali-kali mengalami kegagalan. ”Cat air kan susah dikontrol. Apalagi waktu SMA dulu, saya menggunakan kertas yang kualitasnya kurang baik. Pigmennya tidak pas pula,” ungkapnya.

Sampai akhirnya Ngurah menemukan media yang cocok. Menggunakan kertas khusus yang harganya cukup mahal lantaran memiliki daya serap yang baik. Di antaranya Arches paper buatan Perancis. ”Di atasnya, warna benar-benar bisa menyatu dengan kertas. Hasilnya sungguh maksimal,” ujar perupa 55 tahun itu.

Selama berkarya, Ngurah memang lebih banyak menggunakan media kertas. Bukan tak mau menggunakan kanvas atau media yang lain. Namun baginya, ia tak menemukan hasil yang greget seperti yang ia lakukan di atas kertas dengan cat air. ”Ini menurut saya ya. Respons kanvas itu kurang bagus untuk cat air,” terangnya.

Biasanya, dalam karya cat air dominan menampilkan sisi transparan atau paduan warna minimalis. Namun karya Ngurah berbeda. Itu bisa dilihat dalam lukisannya berjudul The Temple of Bali atau Penari Kipas. Menonjolkan permainan sorot cahaya atau latar yang impresif. Warna-warnanya tajam dan penempatannya yang cukup berani.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: