Soal ANBK Dikeluhkan

Soal ANBK Dikeluhkan

Asesmen nasional berbasis komputer (ANBK) masuk ke hari ketiga. Rencananya, penilaian sekolah itu berakhir besok. Sedangkan kemarin merupakan hari terakhir gelombang pertama ANBK.

Kepala SMPN 1 Surabaya Akhmad Suharto mengatakan, di sekolahnya, ANBK dibagi menjadi dua gelombang. Yakni gelombang pertama pada tanggal 4-5 Oktober dan kedua tanggal 6-7 Oktober.

Selama dua hari pelaksanaan ANBK tidak ada permasalahan yang berarti. Namun Suharto mengatakan, sekolahnya hanya mengikutsertakan 41 murid dalam ANBK. Padahal seharusnya ANBK diikuti 45 siswa.

Ia menjelaskan, sebenarnya SMPN 1 sudah menyiapkan 50 siswa dalam ANBK. Namun 6 murid di antaranya tidak diizinkan orang tua. ”Sebab ANBK itu sifatnya pembelajaran tatap muka (PTM). Jadi perlu surat izin,” katanya.

Sedangkan 3 murid lainnya tidak datang swab. Sehingga tidak diperkenankan mengikuti ujian. Pemilihan siswa diatur Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Sekolah tidak bisa mengajukan. Semua berdasarkan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN).

Suharto mengatakan, sebelum mengikuti ANBK, peserta diwajibkan menjalani swab. Semuanya difasilitasi dispendik. Selain itu, SMPN 1 menerapkan 15 siswa untuk satu ruangan. Jarak antarpeserta tertata rapi,

SMPN 1 juga menerapkan sistem semi daring. Sistem itu dipilih karena dianggap lebih mudah. Ketimbang sistem daring murni. Sebab koneksi internet yang dipakai jauh lebih ringan. Karena sekolah bisa memiliki server sendiri. Sedangkan daring akan tergabung di server Kemendikbud.

Program ANBK baru dilaksanakan pada tahun ini. Tapi program tersebut sudah dibuat setahun lalu. ANBK dan UNBK merupakan dua hal berbeda. Hasil ujian ANBK tidak mempengaruhi kelulusan tetapi cara Kemendikbud memetakan kualitas sekolah.

Siswa kelas 8 SMPN 1 Khairani Putri Nurita mengatakan, dirinyi kesulitan mengerjakan soal. Meskipun soal yang harus dikerjakan hanya 36 butir.

Putri mengatakan dia hanya belajar semampunya. Dia juga tidak tahu bila akan terpilih menjadi peserta ANBK. ”Baru seminggu lalu diumumkan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Yuli Pramono sempat mengunjugi SMPN 9 di hari pertama ANBK. Di sana ia menemukan nama peserta yang sudah pindah sekolah. Namun itu bukan menjadi masalah. Sebab ada siswa cadangan yang menggantikan.”Selebihnya sudah baik. Apalagi sekolah juga sudah diasesmen. Saya rasa tidak ada kendala lain yang kami temukan,” ungkapnya. (Andre Bakhtiar)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: