Imbas Perang Timur Tengah, Harga Tiket Pesawat di Asia Berpotensi Naik hingga 70 Persen

Imbas Perang Timur Tengah, Harga Tiket Pesawat di Asia Berpotensi Naik hingga 70 Persen

Sejumlah maskapai tujuan Timur Tengah menyesuaikan jadwal keberangkatan dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali imbas penutupan ruang udara-Disway.id/Rivansky Pangau-

HARIAN DISWAY – Industri penerbangan di Asia mulai menghadapi tekanan serius akibat lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Sejumlah maskapai bahkan telah menaikkan harga tiket dan menyiapkan skenario darurat, termasuk kemungkinan mengandangkan armada pesawat jika harga bahan bakar terus melonjak.

Maskapai penerbangan asal India dilaporkan telah menaikkan harga tiket untuk rute jarak jauh sekitar 15 persen. Kenaikan ini diperkirakan masih bisa bertambah jika harga bahan bakar jet terus meningkat.

BACA JUGA:Diskon Harga Tiket Pesawat Lebaran 2026, Ini Bocoran Skemanya dari Pemerintah!

BACA JUGA:Diskon Tiket Pesawat dan Kereta Lebaran 2026 Segera Berlaku, Pemerintah Siapkan Anggaran Rp13 Triliun

Di Vietnam, media pemerintah bahkan memperingatkan harga tiket pesawat dapat melonjak hingga 70 persen. Peringatan tersebut muncul karena maskapai di negara tersebut sangat bergantung pada impor bahan bakar avtur.

Kondisi tersebut semakin memperberat industri penerbangan di kawasan Asia karena banyak maskapai belum memiliki perlindungan terhadap fluktuasi harga minyak atau hedging yang kuat. Berbeda dengan maskapai di Eropa dan Amerika Serikat yang umumnya sudah mengantisipasi risiko tersebut.

Analis pasar minyak senior di Sparta Commodities June Goh menilai situasi kali ini memicu kepanikan di kalangan maskapai penerbangan.

BACA JUGA:Mendagri Imbau Warga Tak Panic Buying, Stok Pangan Nasional Dipastikan Aman Jelang Lebaran

BACA JUGA:Cara Cek Sisa Gas LPG via Aplikasi di Hape, Masak Lebaran jadi Tenang!

"Tombol panik telah ditekan di mana-mana. Maskapai di Asia yang memiliki program lindung nilai yang lemah sangat rentan dengan harga bahan bakar jet saat ini jika mereka menjual tiket pada harga sebelumnya yang lebih rendah dari posisi kita sekarang," ujar Goh dikutip The Straits Times, Rabu, 11 Maret 2026.

Maskapai berbiaya rendah di Asia Tenggara bahkan mulai menyimulasikan skenario penghentian operasional pesawat apabila harga bahan bakar tidak lagi terjangkau.

Kondisi tersebut dinilai sangat berisiko bagi maskapai dengan margin keuntungan yang tipis.

BACA JUGA:Jelang Mudik Lebaran 2026, Komut Pertamina Tinjau Kesiapan Pasokan BBM di SPBU Rest Area KM 57

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: