Robot Trading

Robot Trading

Harian Disway - AKHIR-AKHIR ini dunia investasi portofolio lagi diramaikan fenomena robot trading. Platform itu ditawarkan berbagai perusahaan dengan iming-iming ”kecanggihan” robot untuk melakukan auto-trading pada foreign exchange (forex), emas, dan cryptocurrency. Mereka menjamin robot tersebut pintar, bisa secara otomatis melakukan aksi jual atau beli secara tepat waktu dan jumlah, serta jarang melakukan kesalahan.

Banyak platform yang menawarkan robot trading itu. Jumlahnya mencapai ratusan. Penawarannya pun bermacam-macam. Mulai penjualan robot, investasi forex dengan keuntungan fixed menggunakan robot, hingga penjualan robot dengan sistem member get member layaknya perusahaan multilevel marketing (MLM).

Kebanyakan mereka menawarkan robot untuk transaksi berjangka seperti forex, emas, atau indeks saham. Transaksi-transaksi itu ada dalam domain Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas Indonesia (Bappebti). Karena itu, banyak situs yang menawarkan robot trading bukan dari perusahaan berizin tersebut ditutup oleh Bappebti.

Sejak dulu, transaksi derivatif forex, emas, indeks saham ini memang banyak disalahgunakan. Banyak perusahaan ilegal yang menawarkan investasi itu. Bappebti, misalnya, menyebut selama tahun 2021 ini saja, sudah ada 954 domain web ilegal yang bergerak dalam transaksi derivatif itu ditutup. Banyak di antaranya menawarkan robot trading. Lainnya menawarkan investasi trading forex dan emas dengan keuntungan tetap yang sudah pasti ilegal.

Bagaimana sebenarnya cara kerja robot trading? Sebagai gambaran, kita bisa lihat Robot Trade Gold atau Auto-Trade Gold yang masih aktif. Dalam webnya, robot itu disebut software atau script algoritma yang ditambahkan dalam platform trading forex. Tujuannya,  aplikasi tersebut bisa melakukan transaksi jual dan beli secara otomatis. Tidak perlu lagi instruksi manual pengguna.

Yang menarik, perusahaan menawarkan  robot dengan kemampuan beragam. Harganya pun bermacam-macam sesuai nominal dana yang mampu dikelola robot yang disebut sebagai expert advisor (EA) itu. Untuk bot level 1, misalnya, menawarkan kapasitas trading USD 110–USD 500, lalu memberikan auto compound 0,01 lot–0,05 lot dan dibanderol dengan harga USD 100 atau Rp 1,5 juta. Sementara itu, untuk bot level 5, kapasitas trading-nya bisa mencapai USD 10 juta dan auto compound 1.000 lot. Bot itu dibanderol dengan harga USD 3.500 atau Rp 52,5 juta.

Bagaimana keamanannya? Perusahaan mengeklaim kemampuan robot itu luar biasa. Robot untuk transaksi forex dijamin bisa menghasilkan keuntungan yang konsisten 15–30 persen per bulan. Mereka juga menjamin kepastian withdraw sewaktu-waktu tanpa batas. Perusahaan juga memitigasi risiko dan hanya menoleransi kerugian 3 persen.

Apakah benar seperti itu? Pasti tidak. Harus dipahami, bahwa robot trading itu tak ubahnya software saja yang disiapkan untuk bisa melakukan auto-transaction pada kondisi pasar tertentu. Biasanya, transaksi auto seperti itu didasarkan pada data historis transaksi tak ubahnya technical analysis. Artinya, robot berjalan bergantung pada instruksi-instruksi yang sudah di-setting berdasar pada keyakinan pembuatnya.

Cara kerja robot itu tak ubahnya cara manual trader dengan analisis-analisis tertentu untuk menentukan kapan harus mengambil posisi buy atau sell. Misalnya, pada transaksi emas, banyak broker membuat konsep membeli pada open market dan menjual setelah memperoleh 1,3 poin secara konsisten. Atau menggunakan dasar closing price pada hari perdagangan sebelumnya.

Bedanya, trading menggunakan robot bisa menghilangkan unsur subjektivitas dan psikologis investor. Banyak investor yang tak berani ambil keputusan eksekusi saat salah ambil posisi, dan begitu juga sebaliknya. Sering kali faktor psikologis membuat investor ”berani rugi, tak berani untung”. Enggan melakukan settlement saat rugi karena berharap harga berbalik arah.

Karena didasarkan pada perilaku-perilaku harga historis, sudah pasti tidak ada robot yang selalu benar. Apalagi, dalam transaksi derivatif itu, selalu dilibatkan tiga pihak, yakni broker, pedagang atau risk taker, dan investor. Karena itu, menjadi penting untuk melihat, platform yang menawarkan robot trading tersebut broker atau siapa? Jika robot selalu benar dan investor untung, lalu sampai kapan pedagang mampu menahan kerugian?

Platform yang menawarkan robot trading tapi hanya bisa digunakan untuk satu broker, misalnya, patut diwaspadai. Sebab, jika memang robot itu independen, pasti bisa digunakan pada broker mana pun. Begitu juga robot yang harus dibeli kembali oleh investor setiap kali menambah investasi. Sebab, semestinya satu robot bisa digunakan transaksi berkali-kali dengan nilai transaksi yang sama ataupun berbeda.

Selain itu, harga atau nilai forex, emas, atau komoditas lainnya dipengaruhi banyak hal. Di antaranya, faktor makro ekonomi, sentimen global, sentimen pasar, nilai dolar, dan sebagainya. Robot  lebih banyak bertindak atas dasar analisis teknikal dan mengabaikan faktor-faktor fundamental dan makro-global itu.

Perdagangan derivatif memang menjanjikan potensi keuntungan yang sangat besar. Sebab, sistem perdagangannya menggunakan sistem margin. Artinya, investor hanya perlu memiliki dana untuk menanggung tingkat kerugian transaksi. Pada perdagangan emas, misalnya, investor cukup memiliki USD 1.000 untuk satu lot, di mana setiap poin harga emas (1 USD) akan dihargai USD 10 atau margin 1:10.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: