Lebih Baik Tunjungan Tiru Mong Kok, Hongkong

Lebih Baik Tunjungan Tiru Mong Kok, Hongkong

PEMILIK kafe dan restoran di Jalan Tunjungan akhirnya bertemu dengan Pemkot Surabaya kemarin (10/11). Komisi C DPRD Surabaya menjadi jembatannya.

Mereka membahas larangan parkir tepi jalan yang berlaku sejak 1 November. Gara-gara aturan itu, omzet pedagang anjlok 80 persen. Padahal, mereka baru saja bangkit setelah kasus Covid-19 terkendali.

Dalam pertemuan kemarin, Ketua Komisi C DPRD Surabaya Baktiono menampilkan tiga foto kawasan Mong Kok di Hongkong. Foto pertama menampilkan Mong Kok yang macet. Foto kedua, kawasan mulai ramai setelah penataan. Foto terakhir, menampilkan Mong Kok yang sudah steril dari kendaraan. ”Mudeng belum Sampean?” tanya Baktiono kepada jajaran pemkot yang hadir.

Pertanyaan itu ditujukan ke Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya Irvan Wahyudrajad serta Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Ahmad Agung Nurawan. Keduanya mengangguk-angguk. Tanda sudah paham.

Baktiono menerangkan, Mong Kok adalah labirin jalan sempit yang ramai di Hongkong. Tersohor sebagai tempat wisata belanja murah.

Ada banyak toko yang menjual pakaian dan pernak-pernik di Ladies Market yang luas. Tanaman dan bunga penuh warna ada di Flower Market. Sementara itu, Fa Yuen Street dipadati toko sepatu sneaker dan perlengkapan olahraga. Itulah kawasan pusat barang KW super.

Wisatawan juga bisa mengunjungi Temple Street Night Market yang dipenuhi toko yang menjual benda unik, peramal, dan kedai makanan. Ada banyak kedai kuliner yang menjual teh dan beragam street food Hongkong.

”Jadi, semua butuh proses. Tunjungan ini belum ramai, tapi kok sudah melarang orang parkir di sana,” ujar Baktiono. Karena itu, komisi C mengusulkan agar larangan parkir di Tunjungan dicabut.

Anggota dewan lima periode itu minta pemkot membiarkan Tunjungan tumbuh lagi. Perlu banyak magnet untuk menarik wisatawan.

Itu tidak cukup dengan mengembalikan wajah asli Tunjungan dengan membongkar seng dan reklame yang menutupinya. Atau menghias Tunjungan dengan hiasan lampu warna-warni. ”Percuma dibangun mahal-mahal tapi nyatanya mati suri,” lanjut politikus PDIP itu.

Anggota Komisi C Elok Cahyani sepakat dengan Baktiono. Surabaya memang perlu mencontoh daerah lain yang sudah sukses menata kawasan heritage-nya. ”Jangan jauh-jauh. Kita lihat Malioboro di Yogyakarta,” ujar politikus Demokrat itu.

Ada magnet besar yang membuat wisatawan ingin kembali ke kawasan lawas itu. Banyak suvenir khas Jogja yang bisa didapat di sana. Mulai pia, kaus, hingga kerajinan tangan.

Elok belum menemukan magnet yang sama di Tunjungan. Sudah ada sebelas pengusaha yang membuka kafe dan restoran tepat di depan Hotel Majapahit.

Menurutnya, upaya pengusaha itu bisa jadi magnet kecil yang memicu pengusaha lain untuk menginvestasikan uangnya ke Tunjungan. ”Berapa toko yang masih tutup sekarang?” ujar politikus dari dapil 2 Surabaya itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: