Produk Decky Sastra Dipakai Jokowi

Produk Decky Sastra Dipakai Jokowi

Sampai suatu saat ia ditugaskan mengoordinir pembuatan baju kelas SMA. Mulai dari menyusun desain sampai proses produksi. Saat mengurusnya, ia bertemu dengan seorang pebisnis kaus yang suka dengan desain Decky. Orang itu lalu menawarinya pekerjaan membuat desain kaus untuk penjualan di pasar-pasar.

”Satu kaus dihargai Rp20 ribu. Nah, pemilik toko mau beli kalau sudah bikin 10 desain. Sudah terbayangkan berapa yang saya dapat? Di masa-masa susah, angka segitu rasanya banyak sekali. Senang rasanya bisa punya uang sendiri sehingga enggak merepotkan ibu,” kata bapak satu anak itu.

Harga jasa desain tersebut terbilang murah dan jauh di bawah pasaran. Decky tahu akan hal itu. Tapi ia mengabaikan orang-orang yang memberi kritik. Kebahagiaan sudah didapatkan ketika tahu desain kausnya dipakai orang-orang.

Ia lalu melanjutkan mendalami dunia desain dengan kuliah jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Komputer Indonesia (Unikom) pada 2006. Relasinya semakin luas lagi. Sampai kenal dengan beberapa band lokal yang membutuhkan jasa desainer untuk merchandise. Decky pun dipercaya untuk menggarapnya.

Masa kuliah sekaligus mengajarkan Decky banyak hal dalam hidup. Ibundanya hanya mampu membayar uang masuk. Kondisi ekonomi yang serba terbatas membuatnya harus bekerja lebih keras lagi untuk menutup biaya kuliah. Sampai-sampai harus berbagi indekos dengan temannya.

”Ibu hanya membayar uang masuk. Selebihnya saya penuhi sendiri. Biaya indekos Rp300 ribu, listrik Rp65 ribu. Saya hanya bayar untuk listrik Rp65 ribu, sisanya dibayar teman saya. Bagaimana lagi, saya tidak punya uang, buat makan pun susah,” kenangnya.

Sambil mengembangkan Rawtype Riot, Decky Sastra hobi mengoleksi motor dan mobil tua untuk mengisi waktu luang. (Decky Sastra untuk Harian Disway)

Setelah lulus, Decky sempat bekerja sebagai desainer grafis selama empat tahun. Kemudian resign dan bekerja secara freelance. Membantu mendesain untuk banyak event sampai bekerja lepasan untuk beberapa brand distro. Profesi tersebut ia tekuni selama kurang lebih sembilan tahun.

Masa tersebut dianggapnya sebagai waktu untuk belajar berbisnis. Melihat bagaimana cara memasarkan desain yang dituangkan ke dalam bentuk pakaian. Hingga sampailah pada niat besarnya untuk membuat merek sendiri yang sudah dikenal masyarakat. "Utamanya ketika produk saya dipakai Jokowi. Sebuah pencapaian luar biasa bagi seorang pria yang pernah berada dalam kondisi sangat sulit semasa sekolah," bebernya.

Kini, produk bikinan Decky sudah memiliki penggemar sendiri. Terutama dari kalangan penikmat modifikasi dan kustomisasi kendaraan lawas. Persebaran pembeli sudah ke luar negeri. Mulai dari Malaysia hingga Amerika Serikat. Ia pun punya gerai sendiri sekaligus difungsikan sebagai tempatnya berkarya. Itulah salah satu impiannya saat memulai Rawtype Riot, yang akhirnya terwujud. (Heti Palestina Yunani-Ajib Syahrian)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: