Jejak Candi di Kompleks Makam Sunan Ampel

Jejak Candi di Kompleks Makam Sunan Ampel

 

ABDUL Hadi sedang menggali di halaman dekat bangunan baru di kompleks Makam Sunan Ampel siang kemarin (14/12). Sampai kedalaman sekitar 40 sentimeter, linggis yang dipakainya membentur batu. Bentuknya berukuran 80 x 45 sentimeter dengan ketebalan 20 sentimeter.

Lek semen biasae kan ono coral e. Lha iki gak ono,” kata pria asal Rembang itu. Penggalian itu langsung dihentikan. Begitu dipergoki anggota Forum Begandring Soerabaia Nanang Purwono dan Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya A.H. Thony.

Beberapa bongkahan yang pecah dari batu itu diambil. Strukturnya mirip batuan andesit. Bagian dalamnya kasar. Ada kerlip seperti zat besi. Namun, batu berbentuk segi panjang itu polos. Tak terlihat ada motif apa pun yang terukir di permukaannya. ”Ini seperti nisan makam orang China dulu,” ungkap Nanang.

Selain itu, mereka meninjau beberapa temuan lainnya. Di antaranya, 1 lumpang, 1 umpak, 2 bongkahan struktur lantai, dan 3 nisan. Semuanya terbuat dari andesit.

Menurut Nanang, dua bongkahan struktur lantai itu mirip seperti yang ada di lantai candi-candi pra-Majapahit. Di setiap ujungnya pothel. ”Ujungnya ini pothel bentuk L sebagai pengunci untuk bongkahan lainnya,” katanya.

Begitu juga dengan lumpang yang tak lagi utuh itu. Mungkin berasal dari era saat maraknya bangunan candi-candi di masa lalu. Satu umpak diduga sebagai penyangga pilar pemakaman. 

Sementara itu, tiga nisan lain memiliki ornamen dan ukuran yang berbeda. Satu nisan paling besar berukuran sekitar 2 meter. Punya ukiran dengan motif pepohonan dan burung. Ukuran dua nisan lain lebih pendek.

”Kalau dilihat, motifnya mirip dari Melayu,” kata anggota Begandring Soerabaia yang lain, Tri Priyo Widjoyo. Ia menduga, semua peninggalan itu diperkirakan dari zaman pra-Kerajaan Majapahit. Maka, harus ada penelitian lebih lanjut. Agar bisa melacak sejarah yang lebih jauh lagi.

Benda-benda peninggalan itu awalnya ditemukan secara tak sengaja. Berserakan di sekitar makam. Umpak dan lumpang ditemukan sejak 3 tahun lalu. Sementara itu, nisan tersebut baru beberapa hari lalu. ”Tergeletak begitu saja di sini,” katanya.

Selama ini publik hanya tahu gentong batu sebagai benda peninggalan sejarah yang ditemukan di sana. Yakni, digunakan untuk tempat minum peziarah. Sedangkan benda-benda yang lain belum pernah diketahui.

Potensi untuk mengetahui sejarah kompleks makam Sunan Ampel lebih jauh terbuka lebar. Untuk itu, ia akan mendatangkan tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BCP) Trowulan. Agar segera dilakukan penelitian. ”Temuan ini bagus. Kita sangat bersyukur. Saya sudah panggil tim dari Trowulan,” kata Thony. (Mohamad Nur Khotib)

https://www.loket.com/event/disway-business-forum-economic-outlook-2022_9b9Y4
https://bit.ly/3Eb2Rhk

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: