Ivermectin Ikuti Gelombang Omicron?

Ivermectin Ikuti Gelombang Omicron?

Omicron benar-benar telah unjuk gigi. Tidak perlu menunggu waktu terlalu lama, tahtavarian Delta segera berpindah tangan.

Fenomena di Indonesia agaknya tidak akan jauh berbeda dengan negara-negara lainnya. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kawasan Eropa atau Amerika Serikat yang lebih dahulu diterpa gelombang Omicron.

Menurut laporan terakhir, Omicron kini menduduki posisi puncak. Di negara Paman Sam sebanyak 99,5 persen kasus Covid-19 telah diambil alih oleh varian virus ini.

Tidak sampai dua bulan sejak Omicron terdeteksi, gelombang Covid-19 telah menyapu negara adi daya itu. Puncaknya telah tercapai lebih dari 800 ribu kasus dalam sehari.

Saat ini dikabarkan gelombang tersebut telah mulai mereda. Eropa mengalami pola yang serupa. Terutama Inggris. Perdana Menteri Boris Johnson bahkan telah menyatakan bahwa saat ini negaranya tidak memerlukan lagi isolasi mandiri.

Penanganan Covid-19 disetarakan dengan mengelola ’flu biasa’. Pemakaian   masker tidak diwajibkan lagi bagi masyarakatnya saat menggunakan kendaraan umum.

Swedia malah bertindak ’lebih maju’. Baru-baru ini negara di kawasan Skandinavia itu telah mendeklarasikan berakhirnya pandemi. Walaupun Covid-19 dengan varian Omicronnya masih tetap eksis, namun dianggap bukan lagi sebagai penyakit yang berbahaya.

Angka vaksinasi yang tinggi menjadi alasannya. Karakter masyarakatnya yang edukatif dengan tingkat literasi yang tinggi dipandang sangat menyokong mitigasi pandemi.

Setali tiga uang, beberapa negara Eropa lainnya mulai melonggarkan protokol kesehatan. Negara-negara di benua biru tersebut cukup percaya diri walaupun angka-angka Omicron masih tetap mendominasi. Denmark, Belanda, Irlandia serta Perancis dan Norwegia adalah negara-negara yang mengikuti jejak kebijakan Inggris atau Swedia.

Lain ladang lain belalang. Lain lubuk lain ikannya. Diprediksi, negara kita akan mencapai puncak gelombang Omicron pada akhir Februari. Bila alurnya mengikuti pola gelombang Omicron di luar negeri, sedikitnya bisa terjadi kenaikan tiga kali lipat dibandingkan puncak gelombang Delta.

Bahkan mungkin bila tidak diantisipasi secara maksimal, puncak gelombang tersebut bisa mencapai enam hingga delapan kali lipatnya. Artinya, sedikitnya 170 ribu kasus diprediksi akan terjadi dalam sehari.

Puncak gelombang Delta terjadi pada 15 Juli 2021 silam. Saat itu terkonfirmasi 57 ribu kasus dalam sehari. Bila prediksi tersebut menjadi kenyataan, fasilitas kesehatan akan mengalami tekanan berat.

Untung varian Omicron tidak seganas Delta. Namun demikian, varian ini tetap berpotensi membahayakan pada populasi tertentu. Orang-orang yang tidak divaksinasi/vaksinasi tidak lengkap, berisiko mengalami dampak klinis yang lebih berat. Demikian pula lansia, penyandang komorbid dan anak-anak, berisiko lebih tinggi.

Membaca situasi yang mengkhawatirkan itu, diperkirakan fasilitas kesehatan yang menampung isolasi terpusat (isoter) akan kewalahan. Alternatif pilihan yang mungkin bisa ditempuh adalah isolasi mandiri (isoman). Sementara rumah sakit hanya dipersiapkan untuk menangani kasus-kasus dengan gejala sedang dan berat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: