Canda Maestro Ludruk Cak Sapari, Tetap Guyon Meski Sakit

Canda Maestro Ludruk Cak Sapari, Tetap Guyon Meski Sakit

Cak Sapari dalam Perawatan Dokter-Robets Bayoned untuk Harian Disway-

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Meski sakit, selera humor Cak Sapari tak berkurang. Daya ingatnya pun masih tajam. Robets Bayoned, tokoh penggiat ludruk Surabaya mengungkap candaan-candaan itu ketika ia datang menjenguk. Pemkot Surabaya juga telah memberikan bantuan. 

Mengetahui kondisi Cak Sapari, maestro ludruk yang terbaring lemah, beberapa pihak tergerak untuk memberikan bantuan.

Gerakan itu salah satunya digagas Robets Bayoned. Tokoh muda penggagas komunitas ludruk The Luntas dan Baladda. Siang, 18 Juni 2022, ia hadir dengan seorang dokter, yang didatangkan oleh relasinya, untuk memeriksa kesehatan maestro ludruk tersebut. 

“Pihak kecamatan Sukomanunggal sudah memberikan bantuan berupa satu bed untuk beliau,” ungkapnya. Sedangkan Pemkot Surabaya, melalui unggahan instagram Wali Kota Eri Cahyadi, telah mengirim ambulans dan tenaga medis untuk membawa Cak Sapari ke Rumah Sakit. Cak Sapari yang semula enggan dibawa ke RS, akhirnya bersedia setelah dibujuk cukup lama. Ia kini dibawa dan dirawat di RS Soewandhi.

Robets mengungkapkan, bahwa meski sakit sekali pun, selera humornya tak berkurang. Daya ingat Cak Sapari pun masih tajam. 

Seperti ketika Robets berkunjung, Cak Sapari tiba-tiba meminta air. “Bet, Robet, jukukno banyu,” pintanya. “Ngelak nggih, Cak? Sekedhap,” jawab Roberts. Ia bertanya, apakah Cak Sapari haus. Kemudian memintanya untuk menunggu. 

Duduk, aku gak ngelak, iku lho, iku lho,” ujar Cak Sapari sembari terbata-bata. Ia mengatakan bahwa dirinya tak haus. Kemudian menunjuk ke dinding bagian atas ranjangnya. Di situ terpajang sebuah lukisan tentang suasana panen dan figur seorang petani yang sedang memanggul gabah. Ada apa dengan lukisan itu? 

Wong iku wes suwe mikul gabah. Sakno, pegel. Ke'ono banyu, Bet,” ungkapnya. Cak Sapari menunjuk pada figur pemanggul gabah itu, kemudian menyebut bahwa sosok dalam lukisan tersebut sudah dari dulu memanggul gabah. Ia merasa kasihan dan menyuruh Robets memberinya minum. 

Tak pelak, semua orang tertawa. Dalam keadaan lemah pun Cak Sapari masih bisa mbanyol. “Maestro sejati itu seperti Cak Sapari. Ketika sakit, ia masih mampu membuat semua orang tertawa. Alih-alih bersedih,” ujar pria 45 tahun itu. 

Saat itu pun Robets sempat mengajak Cak Sapari menebak tentang sebuah kidungan yang pernah dibawakannya. Ketika menyanyikan kidungan tersebut, Robets bertanya, “Hayo, kidungan iki tau sampeyan gawakno pas mentas nangdi, Cak?,” tanyanya. Ia bertanya tentang nama kota tempat kidungan tersebut pernah dibawakan oleh Cak Sapari. Dengan tegas Cak Sapari menjawab, “Madiun”. “Betul seratus persen,” tukas Robets. 

Ada pula momen ketika Cak Sapari melantunkan kidungan. Meski terbata-bata, ia bernyanyi: Suwe gak tau jamu, jamu godong telo. Suwe gak ketemu, ketemu pisan ati loro. Artinya, lama tidak pernah minum jamu. Jamu daun ketela. Lama tak bertemu, sekali bertemu membuat hati lara. 

Ning Titin Encer, rekan Robets bertanya pada Cak Sapari,“Kenapa kok hatinya lara”. Ia sejenak tersenyum. Kemudian berujar, “Soale aku biyen tau nyopet”. Ia mengatakan bahwa dulu pernah mencopet. Entah apa hubungannya dengan kidungan tersebut, namun celetuknya itu kembali mengundang tawa dari semua orang. 

Robets dan kawan-kawan, pada malam, 18 Juni 2022 akan mengadakan pementasan ludruk charity untuk Cak Sapari, di Warung Mbah Cokro. “Open donasi sudah kami buka sejak 2 hari lalu,” ungkap Robets. 

Sebelum pentas, melalui unggahan tertanggal 17 Juni dalam akun facebook pribadinya, Robets menulis bahwa donasi telah terkumpul sebanyak 10 juta. “Durung pentas wes akeh sing nyawer. Maturnuwun,” tulisnya. Ia mengatakan bahwa pentas charity belum dimulai, tapi donasi telah terkumpul. Ia berterima kasih atas kepedulian masyarakat. (Guruh Dimas Nugraha) 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: