Partai Bakso

Partai Bakso

-Ilustrasi: Reza Alfian Maulana-Harian Disway-

TUKANG bakso identik dengan wong cilik. Bakso juga identik sebagai makanan wong cilik. Harganya murah dan cukup bergizi. Tidak terhitung berapa banyak tukang bakso di sekitar kita.

Tidak ada asosiasi tukang bakso yang tercatat resmi yang bisa memberikan data jumlah tukang bakso. Tapi, dengan melakukan observasi di jalan selama satu jam, kita bisa tahu betapa banyaknya tukang bakso di sekitar kita. Bakso jelas menjadi salah satu sektor informal yang menyelamatkan ekonomi rakyat.

Jarang-jarang tukang bakso menjadi perbincangan nasional. Tapi, kali ini tukang bakso naik kelas karena jadi perbincangan di arena rapat kerja nasional (rakernas) PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), partai besar yang menjadi pemenang pemilu dan menjadi partai penguasa alias the ruling party.

Adalah Megawati Soekarnoputri yang menyebut tukang bakso dalam sambutannya ketika membuka rakernas (22/6). Berbicara di luar teks, Megawati bercerita mengenai kepemimpinan nasional. Lalu, ia menceritakan pengalaman pribadinya ketika mencari menantu untuk anak dan cucunya. Saat itulah Mega bercanda dengan menyebut bahwa ia mengingatkan anak cucunya jangan sampai mencari jodoh seperti tukang bakso.

Sebelum video itu beredar, terlebih dahulu beredar video yang menunjukkan Mega murka karena ada kader-kader PDIP yang disebutnya bermanuver untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas supaya bisa menjadi calon presiden. Dengan nada tinggi, Mega mengingatkan supaya manuver-manuver itu dihentikan. Mega mengingatkan bahwa hak prerogatif untuk menentukan calon presiden maupun calon wakil presiden PDIP ada di tangannya.

Dengan geram, Mega mengultimatum kader-kadernya supaya berhenti bermanuver atau menghadapi risiko dipecat dari partai. Tidak ada nama yang disebut Mega. Namun, semua mafhum, ultimatumnya ditujukan kepada Ganjar dan Jokowi yang hadir mengikuti acara itu.

Di sela pidato yang penuh api itu, Mega melunak, sempat mematikan mik, lalu berbicara lagi. Potongan ucapan Mega mengenai tukang bakso itu mendapat perhatian serius dari banyak netizen. Maunya bercanda, tapi para netizen menyebut Mega rasis dan diskriminatif terhadap orang miskin.

Netizen menyindir dengan mengatakan bahwa PDIP selalu mengeklaim sebagai partai wong cilik, tetapi ternyata rasis terhadap rakyat kecil. Lainnya menyebut lebih baik jadi tukang oskab bakso dibaca terbalik, gaya Malang ketimbang jadi menteri tapi mengembat dana bansos.

Setelah upacara penutupan rekernas (23/6), ritual public relation dilakukan dengan beramai-ramai makan bakso dari gerobak bakso yang diundang ke kantor PDIP di Lenteng Agung. Tidak disinggung sama sekali soal pernyataan Mega soal tukang bakso.

Itu bukan insiden pertama netizen ramai-ramai merundung Mega. Ketika krisis minyak goreng tengah memuncak Maret lalu, Mega mempertanyakan emak-emak yang bersusah-payah antre minyak goreng sampai berdesak-desakan. Mega mengaku heran mengapa emak-emak memburu minyak goreng, padahal seharusnya makanan bisa diolah dengan mengukus dan tidak selalu memakai minyak goreng.

Sontak komentar Mega itu disahut beramai-ramai oleh netizen. PDIP kelabakan dan cepat melakukan ritual public relation dengan mengadakan tutorial memasak makanan berbagai resep tanpa menggunakan minyak goreng. Chef-chef terkenal diundang dan para elite politik dikumpulkan dan bersama-sama pamer cara masak tanpa menggunakan minyak goreng. Acara selesai, dan urusan dianggap selesai juga.

Komitmen PDIP sebagai the ruling party terhadap wong cilik banyak dipertanyakan. Kebijakan pemerintah Jokowi yang dalam beberapa hal dianggap tidak pro terhadap wong cilik membawa dampak ”damaging” terhadap citra PDIP sebagai partai wong cilik. Undang-Undang Cipta Kerja, yang cenderung dipaksakan, menjadi salah satu simbol pembelaan terhadap pemodal ketimbang kepada buruh sebagai representasi wong cilik.

Otoritas dan legitimasi Megawati di PDIP sangat kuat dan nyaris mutlak. Hal itu terlihat dalam pelaksanaan rakernas selama dua hari. Mega benar-benar ingin menunjukkan bahwa dirinya berada dalam ”full control” terhadap PDIP.

Mega memanggil Jokowi ke ruangannya sebelum pembukaan rakernas. Video yang beredar menunjukkan Puan Maharani mengevlog dan menunjukkan Jokowi duduk di kursi menghadap Megawati yang duduk di kursi kulit. Jokowi kelihatan seperti seseorang yang sedang menghadap atasan atau seseorang yang sedang mengurus surat ke kelurahan.

Show of force oleh Mega juga dipamerkan pada penutupan rapat dengan menunjuk Ganjar Pranowo sebagai pembaca hasil rekomendasi rakernas. Salah satu poin utama adalah keputusan calon presiden dan wakil presiden dari PDIP adalah hak prerogatif mutlak sang ketua umum. Ganjar diperlakukan seperti anak SD yang suka membolos dan disetrap maju ke depan kelas.

Cara Mega memperlakukan Jokowi sebagai petugas partai mendegradasikan wibawa Jokowi sebagai orang nomor satu di republik ini. Cara Puan Maharani membuat vlog dengan memunggungi Jokowi dianggap kurang memberikan respek kepada presiden.

Megawati memang anak biologis Bung Karno. Namun, banyak kritikus yang menyebut Megawati bukan anak ideologis dari bapaknya. Komitmen terhadap wong cilik yang menjadi tonggak perjuangan Bung Karno sudah kian luntur di PDIP. Bung Karno merumuskan komitmennya terhadap wong cilik melalui ”marhaenisme” yang menjadi ciri khas sosialisme Indonesia yang berbeda dari sosialisme di negara-negara lain.

Sudah sangat lama Megawati tidak terdengar berbicara mengenai marhaenisme. Momen makan bakso kemarin seharusnya dipakai untuk me-refresh pemahaman mengenai marhaenisme supaya Mbak Mega tidak lupa. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: