Cheng Yu Pilihan Chairman Jababeka Group S. D. Darmono: Tu Long Zhi Ji

Cheng Yu Pilihan Chairman Jababeka Group S. D. Darmono: Tu Long Zhi Ji

Cheng Yu SD Darmono--

DITEMUI di Polo Lounge Restaurant di lantai 2 Menara Batavia, Jakarta, S. D. Darmono banyak bercerita mengenai pentingnya pengaplikasian ilmu yang dipunya. "Saya sangat suka pepatah Tiongkok The art of killing dragons," kata pendiri sekaligus chairman Jababeka Group ini, Rabu (30/11) kemarin.

Peribahasa yang berbunyi "屠龙之技" (tú lóng zhī jì) tersebut berasal dari kisah yang terdapat dalam Zhuangzi (庄子), kitab yang dikompilasi oleh filsuf besar Taoisme Zhuang Zhou 庄周 beserta murid-muridnya. Maknanya: belajar ilmu, mesti bisa diaplikasikan

Diceritakan di sana, ada seorang yang mati-matian mempelajari cara membunuh naga. Harta dan waktunya rela ia habiskan semua. Namun, setelah selesai, ternyata tak ada gunanya. Karena di dunia tidak ada naga.

BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Ketua Umum FOBI Kalbar Sugioto: Ji Shan Cheng De

"Itu sama halnya dengan orang yang hanya pandai berteori, dengan gelar akademik berderet-deret, tapi tidak bisa kerja," kata Pak Darmono, lantas tertawa.

Tentu, sambung Pak Darmono, bukan berarti teori dan gelar akademik tidak penting. Konsultan dan praktisi hukum, misalnya, jelas membutuhkan keduanya. Kalau tidak, orang tidak akan percaya terhadap kemampuannya. Sebaliknya, bagi pengusaha, mungkin tidak terlalu memerlukan. Sebab, yang lebih wajib dikedepankan adalah langkah nyata.

"Makanya, saya juga menyukai ungkapan Hands follow the mind. Tangan bergerak mengikuti pikiran," tambah Pak Darmono, mengutip yang dinyatakan Zhuang Zhou, "得之于手而应于心" (dé zhī yú shǒu ér yīng yú xīn).

Tetapi, yang tak kalah krusial menurut Pak Darmono, ialah konsistensi dan pemikiran jangka panjang dalam mengerjakan segala hal. "Ketika membangun Kawasan Ekonomi Khusus Morotai, banyak yang terheran-heran akan keputusan saya. Jawaban saya simpel: '愚公移山' (yú gōng yí shān)," ujarnya, kemudian tersenyum.

Anda sudah tahu, "愚公移山" (yú gōng yí shān) menceritakan kakek tua yang bertekad memindahkan gunung yang menghalangi rumahnya. Tetangga-tetangganya mencemoohnya, menganggap sang kakek melakukan tindakan bodoh. Sang kakek tak peduli; teguh pada pendiriannya dan terus melanjutkan paculannya. Hingga akhirnya, Tuhan mengabulkan keinginannya dan anak cucunya menikmati hasil kerja kerasnya.

Kita pun turut mencecap buah dari jerih payah Pak Darmono. (*)

 

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: