Mijn Roots Mencari Orang Tua Kandung: Bayiku Hilang di Tempat Penitipan Anak (99)

Mijn Roots Mencari Orang Tua Kandung: Bayiku Hilang di Tempat Penitipan Anak (99)

WAJAH CILIK Ana Maria dalam dokumen adopsi ke Belanda. -Dok Ana Maria -

Ana Maria adalah korban penculikan anak pada 1978. Ibu angkatnyi, Gerda van Valen, marah begitu tahu fakta itu. Selama ini dia mengira Ana berasal dari panti asuhan. Kalau Gerda saja marah,  tentu Anda bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu kandungnyi: Sati.

ENTAH bagaimana rasanya jadi Sati. Saya melamun agak lama ketika menulis seri ke-99 ini. Sekujur tubuh merinding begitu Ana mengirimkan pesan WhatsApp sebagai tambahan wawancara, Senin, 5 Desember 2022.

Imagine. You bring your kid to the daycare and when you want to pick up the child, she is gone. Someone thought it is better for someone else to take care of me. They made a decision for my mother and me. In my paper, they said my mother gave me away. But, she never signed anything. She never saw any organization. My mother always prayed for me. She told me when I met her.

”Bayangkan. Kamu membawa bayimu ke tempat penitipan anak dan saat kamu ingin menjemputnya, dia menghilang. Seseorang berpikir, aku lebih baik dirawat orang lain. Mereka membuat keputusan sepihak untuk ibu dan aku. Di dokumen, mereka mengatakan bahwa ibu yang menyerahkanku. Namun, ibu tak pernah menandatangani apa pun. Dia tak pernah melihat organisasi mana pun. Ibu selalu berdoa untukku. Dia mengatakannya saat kami bertemu.” 

Sati memang hidup dengan keterbatasan. Dia pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga saat masih muda. 

Namun, Ana menganggap, kemiskinan bukanlah alasan untuk mengatur hidup orang lain. Apalagi, mengambil anak dengan alasan sang anak bakal hidup berkecukupan di Eropa. Hidup terjamin karena yang mengadopsi punya banyak uang. Mereka berpikir uang adalah segalanya.


KELUARGA BESAR Ana Maria (kanan) di Belanda. Gerda van Valen sang ibu memiliki tiga putra kandung dan dua putri yang diadopsi dari Indonesia.-Dok Ana Maria -

Mereka yang ada di ”lingkaran setan” bisnis adopsi itu tak memikirkan konsekuensi yang dirasakan anak dan orang tua kandungnya. Yang penting dapat duit. 

Ana sedang lucu-lucunya di usia 2,5 tahun. Mulai bisa berbicara dan sangat aktif. Maka, tak heran jika Sati selalu menangis setiap malam. Ada nama Ana di setiap doanyi.

Saat mengadu ke Tuhan, Sati cuma bisa membayangkan wajah kecil anaknyi. Ia tak pernah tahu bagaimana wajah Ana setelah belasan tahun tanpa kabar. Penderitaan itu harus ditelan dengan ketabahan selama 16 tahun.

Zaman Orde Baru, 1978, masyarakat kecil seperti Sati hidup tak berdaya. Sangat mungkin perdagangan manusia itu melibatkan oknum aparat negara dan pejabat pemerintah. Lapor polisi dianggap percuma.

Penantian membuahkan hasil. Doa Sati terkabul pada 4 Desember 1994. Utusan kepala desa Situ Daun datang ke rumahnyi membawa kabar gembira. Mereka mengabarkan ada pasangan asal Belanda datang dengan remaja putri berusia 18 tahun. Dialah Ana yang selalu disebut dalam doanyi itu.

Dia bergegas ke kantor desa dengan tergopoh-gopoh. Sati berlari dan memeluk Ana dengan deraian air mata.  

Kehadiran Ana bak hujan pertama setelah belasan tahun kekeringan. Ana menemukan ”akarnyi”. Mijn Roots. Sati pun bisa memeluk sang buah hati.

Sati menceritakan semuanya di pertemuan dramatis itu. Fakta bahwa dia tidak pernah menyerahkan Ana untuk diadopsi orang lain membuat keluarga Ana dari Belanda kaget.

Sang ibu angkat, Gerda van Valen, yang ikut mengantar Ana sangat marah. Dia merasa ditipu pihak yayasan yang sempat merawat Ana di Jakarta.

Sati tak pernah menandatangani dokumen apa pun. Ia buta huruf. Tak bisa menulis. 

Kan bisa pakai cap jempol? Ternyata cap jempol pun tak ada. Proses adopsi Ana murni kejahatan tingkat tinggi. 


DUA IBU Ana Maria. Ibu angkat bernama Gerda van Valen sedangkan ibu kandung bernama Sati.-Dok Ana Maria -

”Ibu angkatku Gerda juga marah. Selama ini dia mengira aku dari panti asuhan,” lanjut salah seorang pendiri Mijn Roots itu. Dia marah karena merasakan apa yang dialami Sati.

Ada chemistry di antara dua ibu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ana patut bersyukur lantaran memiliki Sati dan Gerda. Dia mendapatkan dua karya terindah Tuhan: cinta di hati seorang ibu. (Salman Muhiddin)

Usia 21 Tahun, Ana Menetap di Indonesia. BACA BESOK!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: