Meneladani Sufi Perempuan Rabiatul Adawiyah

Meneladani Sufi Perempuan Rabiatul Adawiyah

Ilustrasi perempuan yang sedang beribadah.-waydeemuslim -

Rasanya sulit menemukan perempuan seperti Rabiatul Adawiyah di era sekarang. Dia seorang sufi perempuan yang melegenda. Ikhlas kepada Tuhannya. Tak takut neraka, tidak pula mengharap surga.

Pada suatu siang, Rabiatul Adawiyah berjalan sambil menenteng air di kota Bagdad. Kini,  ibu kota Iraq.

Yang aneh, ia menenteng obor di tangan kirinya. Ada apa siang-siang bawa obor? Orang-orang yang melihatnya jadi penasaran.

"Hai, mengapa kamu membawa air dan obor?" tanya seseorang yang melihatnya. 

"Aku hendak membakar surga dengan obor dan memadamkan api neraka dengan air ini, agar orang tidak lagi mengharapkan surga dan takut neraka dalam ibadahnya," jawab Rabiah. Yang bertanya tentu bingung dengan jawaban itu. 

Kisah ikonik itu menjadi simbol keikhlasan Rabiatul. Jiwanya tenang dan nyaman. Hubungan dengan sang Pencipta tidak bergantung pada surga dan neraka.

Pesan kisah itu mirip dengan penggalan lagu Chrisye: Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Jika surga dan neraka tak pernah ada

Masihkan kau bersujud kepadaNya

Jika surga dan neraka tak pernah ada

Masihkah kau menyebut namaNya

Masih ada kah keikhlasan ibadah itu? Kita patut meneladani sang sufi tersebut.

Syairnya Rabiatul Adawiyah dikenang sampai sekarang. Mungkin sampai akhir zaman:

"Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut neraka, bukan pula karena mengharapkan masuk surga tetapi aku mengabdi karena cintaku pada-Nya. Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka bakarlah aku di dalamnya, dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga campakkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang indah padaku".

Bahkan  ketika Rabi'ah jatuh sakit, dia ditanya tentang penyebab penyakitnya. Rabiah kemudian menjawab bahwa penyebab penyakitnya adalah godaan surga. Sehingga dia merasa bahwa Tuhan telah menegurnya.

Level kecintaannya (mahabbah) ke sang-Pencipta ada di level tertinggi. 

Al-Sarraj membagi tiga jenis mahabah, sebagaimana dikutip dari Harun Nasution: Mahabah untuk orang awam, mahabbah untuk shidiqi, dan mahabah untuk orang bijak. 

Mahabbah orang awam selalu mengingat Allah melalui dzikir, ingin menyebut nama Allah dan mendapatkan ridha-Nya. 

Perjalanan menuju mahabbah melewati beberapa tahapan panjang. Derajat pertama adalah Zuhud (menahan diri dari urusan dunia), derajat kedua adalah Ridha (jiwa yang puas adalah jiwa yang mulia) derajat ketiga adalah Ihsan (ibadah menurut pandangan Khaliq). 

Mustafa Abd al-Raziq pernah mengatakan bahwa tasawuf sebelum Rabiah masih sederhana.

Menurut riwayat dari Imam Sya’rani, pada suatu masa adalah seorang yang menyebut-nyebut azab siksa neraka dihadapan Rabi’ah, maka pingsanlah dia lantaran mendengar hal itu. Dia pingsan saat beristighfar memohon ampunan. 

Saat pulih, dia berkata :

“Saya harus meminta maaf lagi seperti saya meminta maaf pertama kali. “ 

Sebegitu mulianya seorang perempuan ini sehingga ketika beliau ingin dilamar oleh seorang saudagar yang sangat kaya raya bernama Muhammad Sulaiman al-Hashimi, seorang amir Basrah. Sulaiman melamar Rabi’ah dengan menawarkan mas kawin sebesar 100.000 dirham, namun hal tersebut malah ditolah oleh Rabiah dengan mengatakan : 

“ Seandainya engkau memberi seluruh harta warisanmu, tak akan mungkin aku memalingkan perhatianku dari Allah padamu “  (*)

Luluk Farida

Mahasiswa Filsafat UINSA Surabaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: