Toko Baju Bekas Impor Tiarap, Kini Thrifting lewat Jalur Online

Toko Baju Bekas Impor Tiarap, Kini Thrifting lewat Jalur Online

Penjual baju bekas di Pasar Gembong Surabaya yang kerap menjadi jujukan pemburu baju murah.-Andika Bagus Priambodo - Harian Disway-

Sepekan lalu, Presiden Joko Widodo kembali menegaskan soal pelarangan bisnis baju bekas impor di Tanah Air. Kegeraman Jokowi rupanya membuat para pelaku usaha cemas. Di Kota Surabaya, misalnya, mereka mulai menutup gerai yang jadi sumber pendapatan itu dengan terpaksa.

 

BISNIS impor baju, kemeja, celana, dan sepatu bekas (thrift) memang sudah menjamur puluhan tahun. Konsumennya banyak dari kalangan pemuda. Sandangan itu bahkan sudah menjadi semacam gengsi sosial.

 

"Ya karena barangnya bagus. Kualitas oke. Branded pula," kata Rian Firmansyah, seorang kawan yang sudah langganan thrifting sejak duduk di bangku SMP. Di dunia kerja, dengan pendapatan yang lebih banyak, Rian makin gemar membeli barang-barang bekas.

 

Bahkan celana, sepatu, dan kemeja kerja harian. Semuanya barang impor bekas. Hal yang sama juga dilakukan oleh kawan-kawannya.

 

Rian pun sempat membuka toko online. Khusus menjual jaket bertudung bekas dengan brand luar negeri tertentu. Ia mempromosikannya lewat Instagram.

 

BACA JUGA : Bisnis Thrifting Baju Bekas Tiarap, Bareskrim Gerebek Gudang Besar di Pasar Senen dan Bekasi

 

Pendapatannya lumayan. Satu potong bisa dapat untung Rp 50 ribu-Rp 70 ribu. Ia biasa kulakan satu karung ke agen lokal. Isinya 50 potong jaket. 

 

Itu pemain lokal. Yang kulakan dari agen lokal. Di Surabaya, ada toko thrifting yang menjual sepatu impor dengan berbagai merek ternama. Seperti Air Jordan, Vans, Onitsuka, dan lain sebagainya.

 

Toko ini cukup terkenal. Melayani online maupun offline. Pengikut akun Instagram-nya sudah 90,9 ribu. Lokasi gerainya di kawasan Gubeng Kertajaya. Nyempil di antara perkampungan warga. 

 

Yang dijual tak hanya satuan. Tetapi juga tersedia paket usaha. Harganya tentu bergantung merek dan jumlah pasang sepatu.

 

Untuk 25 pasang sneakers biasa bisa dikulak dengan harga Rp 5 juta. Atau Rp 16 juta untuk 100 pasang. Yang paling mahal merek Jordan campur Airmax. Dihargai Rp 30 juta untuk 100 pasang.

 

BACA JUGA : Baju Bekas Masuk Indonesia Terus Meningkat

 

Di reels Instagram-nya, mereka biasa buka mulai pukul 12.00 siang hingga 21.00 malam. Selalu terlihat banyak sekali pengunjung yang mengantre di depan toko mereka jelang jam buka.

 

Harian Disway pun mengunjungi toko itu siang kemarin. Namun, wajahnya sudah berubah. Banner papan nama toko sudah lenyap. Pintu gulung mereka tetap tertutup hingga pukul 13.00 siang.

 

"Belum berani buka, Mas. Mungkin seminggu atau dua minggu lagi," jelas Adimas, lelaki bertopi itu. Kini, toko tersebut hanya melayani pembelian online untuk sementara waktu. Karena cemas kena operasi penyitaan.

 

Padahal, bos mereka sudah telanjur kulakan. Mengingat sebentar lagi tiba bulan puasa. Bulan paling ramai bagi para pedagang.

 

Apalagi mereka juga bukan pemain lokal. Ribuan pasang sepatu itu didatangkan langsung dari Thailand. Merekalah termasuk yang memasok stok toko-toko kecil thrifting di kota-kota lain.

 

Menurutnya, keresahan yang sama tengah dialami para pedagang barang impor bekas. Semua takut usaha mereka ditutup. Apalagi, usaha itu sudah menjadi satu-satunya mata pencaharian.

 


Penjual sepatu impor di kawasan Gubeng Kertajaya, Surabaya, yang sementara tutup.-Andika Bagus Priambodo - Harian Disway-

 

Bahkan, seorang pemilik toko thrifting di kawasan Bratang terpaksa pulang kampung. Tentu demi keamanan bisnisnya sementara waktu. "Sementara ini main online dulu," kata Gandos saat dihubungi.

 

Ia sudah menjalani bisnis thrifting online sejak enam tahun lalu. Dan baru berani buka toko offline dua tahun belakangan. Tempatnya pun menyewa.

 

Saat ini, katanya, kecemasan memang sedang merundung para pelaku usaha thrifting. Sebetulnya, kucing-kucingan mereka dengan pemerintah sudah sejak lama. Namun, aturan baru ditegaskan pada 2021. Mengacu pada Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 18 Tahun 2021 tentang Barang Dilarang Ekspor dan Barang Dilarang Impor. 

 

"Saya dan teman-teman sebetulnya heran. Kenapa thrifting ini tidak dilegalkan saja seperti negara-negara maju," jelasnya. Alasan pemerintah pun dinilai kurang tepat. Sebab, bagaimanapun barang impor bekas akan selalu ada pasarnya. Apalagi jika dibandingkan dengan produk-produk lokal. Tentu konsumen sangat selektif. Mengerti bahwa kualitas banyak produk lokal kalah jauh dengan produk impor bekas.

 

Gandos pun berharap ada persaingan terbuka. Apabila usaha thrifting ditutup, maka kualitas produk lokal harus ditingkatkan lagi. "Tapi, kan ya sulit. Wong barang bekas kami ini dijamin like new. Toh, konsumen thrifting memang kebanyakan kapok beli produk lokal dengan harga mahal," tandasnya.

 

Dari bisnisnya, ia bisa meraup untung rata-rata Rp 6 juta-Rp 8 juta per bulan. Bahkan pernah sampai Rp 13 juta. Fluktuasi pendapatan itu bergantung pada kualitas dan merek barang yang dijualnya. Meski toko ditutup, tetapi pendapatan tak jauh berubah.

 

Gandos sendiri mengambil barang dari toko lokal. Kerap di Pasar Gembong Tebasan atau Pasar Pagi Tugu Pahlawan. Tentu harus jeli dalam mencari barang.

 

Saat ini, kata Gandos, para pelaku usaha thrifting hanya menginginkan keadilan. Usaha mereka menjamur di mana-mana. Sebaiknya, pemerintah cukup menarik pajak saja. "Harga barangnya akan naik dan kami yakin akan tetap terbeli juga," jelas Gandos. (Mohamad Nur Khotib)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: