Rina Dibunuh Tukang Kerupuk
Ilustrasi pembunuhan di Cileungsi, Bogor. -Ilustrasi: Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Saat Rina lengah, Alimin mengepruk dari belakang. Kena kepala Rina. Dia langsung tumbang.
Tapi, ternyata Rina masih berusaha melawan. Alimin punya satu senjata lagi: cutter. Itu selalu ia bawa ke mana-mana.
Di saat Rina berusaha bangkit, Alimin menerjang dengan cutter. Kena leher Rina. Menancap dalam. Maka, Alimin sekalian menggorok leher Rina. Darah berhamburan. Rina tumbang lagi. Kali ini tak bergerak lagi.
Alimin mengambil HP, lalu kabur. Jalan kaki ke arah flyover Cileungsi.
Di situ ia dapat tumpangan mobil pikap. Akhirnya Alimin pulang ke kontrakannya di wilayah Tangerang.
Rina ditemukan kali pertama oleh sang pacar. Sebab, di titik Rina tumbang itu adalah lokasi biasa Rina menunggu sang pacar. Rina yang dalam kondisi sekarat dilarikan ke rumah sakit terdekat. Tapi, dia tak tertolong.
Polisi sulit mengungkap pembunuhan model begitu. Antara pelaku dan korban tidak saling kenal. Dilacak berhari-hari, belum terungkap.
Sementara itu, Alimin sudah menjual HP milik Rina. Laku Rp 150 ribu. Disetorkan kepada juragan kerupuk, tempat kerjanya. Ia pun bisa berjualan kerupuk lagi. Keliling jalan kaki lagi, menjajakan dagangan.
Polisi tidak mengungkap ke pers tentang liku-liku pelacakan pembunuh Rina. Tapi, polisi memeriksa beberapa rekaman CCTV di sekitar lokasi. Berbekal rekaman CCTV itulah, polisi tahu profil pelaku.
Setelah hampir sebulan melacak, polisi menangkap Alimin. Sungguh prestasi luar biasa hebat buat penyidik Polres Bogor. Mereka bisa mengidentifikasi pelaku dan mengejarnya. Padahal, gerakan Alimin sehari-hari sulit diprediksi.
Alimin ditangkap polisi tanpa perlawanan. Diinterogasi awal, ia mengakui pembunuh wanita, lalu merampas HP. Bahkan, polisi berhasil menemukan pembeli HP yang dirampok Alimin.
Justru HP itulah petunjuk penting buat polisi dalam proses pelacakan. Kini Alimin ditahan di Polres Bogor. Dikenai Pasal 338 KUHP, pembunuhan. Juga, dijerat Pasal 365 ayat 3 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan matinya korban.
Di keriuhan Jabodetabek, ada kehidupan kaum urban seperti itu. Seperti yang dilakukan Alimin. Pastinya, warga Jabodetabek tidak tahu, bahkan tak mau tahu, nasib kaum urban. Warga tahu setelah membaca berita di media massa.
Betapa sederhana kejahatan terjadi di Jabodetabek. Alimin panik karena kehilangan Rp 400 ribu dan sekarung kerupuk. Untuk menutupi uang setoran Rp 150 ribu, ia tega membunuh manusia. Dengan cara sederhana dan cepat. Satu nyawa melayang karena alasan sangat sepele.
Polisi hanyalah penjaga pintu terakhir: memburu dan menangkap penjahat. Tapi, tidak ada pihak yang memikirkan, bagaimana caranya mencegah pembunuhan seperti dilakukan si tukang kerupuk itu. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: