Ritual Macet

Ritual Macet

ILUSTRASI Ritual Macet.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

TADINYA sekadar ingin memberikan pengalaman kepada cucu yang sedang genap berusia 2 tahun. Namun, ternyata upaya untuk itu penuh perjuangan. Berjuang menghindari kemacetan di jalan saat mengeksplorasi Jawa Barat.

Saya memang agak terbelakang soal kawasan ujung barat pulau Jawa itu. Sangat terbatas pengetahuannya. Hanya tahu kota sepanjang tol Trans Jakarta. Juga, kota besar penyangga Jakarta seperti Bandung dan Bogor

Tahun ini saya ingin merasakan dinginnya Bandung Raya. Sekeluarga. Dengan kendaraan pribadi. Plus anak mbarep touring dengan motor. Menyusuri jalan hampir 500 kilometer pergi-pulang. Melalui jalur pegunungan dan berkelok.

BACA JUGA:Kejebak Macet di Puncak dan Kisah Beruang Es

BACA JUGA:Kredit Macet Gen Z

Tak melalui jalur mainstream. Dari Jakarta lewat puncak Bogor, turun ke Cianjur, lalu memutar lewat Sukanegara ke Ciwedey. Tak semua jalan provinsi yang dilewati mulus. Berkelok-kelok dan sebagian melalui jalan beton. Beberapa ruas sudah rusak.

Untuk menghindari ritual macet di musim liburan, berangkat dari Jakarta dini hari, pukul 03.00. Mampir sarapan bubur khas Cianjur yang ciamik. Setelah melewati dua tiga curug (air terjun), baru masuk ke kebun teh Rancabali. Itu masuk wilayah Kabupaten Bandung. 

Sebetulnya bisa juga ke destinasi wisata yang lagi hype tersebut melalui jalur tol sampai Soreang. Gerbang tol terakhir Bandung. Risikonya, Soreang–Ciwidey menghadapi tantangan macet. Apalagi di musim liburan. Banyak pasar dan pedagang kaki lima pinggir jalan yang ikut menjadi sumber kemacetan. 

BACA JUGA:Perkara Macet Disoal

BACA JUGA:Penodongan saat Lalin Macet

”Saya pernah ingin liburan ke Ciwedey, terpaksa balik kanan karena jalanan menuju ke sana macet total,” kata Priyastomo, komisaris independen salah satu BUMN. Ritual macet juga sering terjadi di tujuan wisata terpopuler lain saat ini seperti Jogja dan Bali.

Ciwidey merupakan destinasi pegunungan di selatan Bandung. Wisata alam dengan udara dingin dan pemandangan indah. Terhampar banyak kebun teh dan sayur-sayuran. Banyak resor, vila, dan glamping. Udaranya seperti musim gugur di negara empat musim.

Mengapa liburan di Jawa Barat –juga Bali dan Jogja– menjadi ritual macet? Mengapa tiga destinasi wisata itu selalu menghadapi hal yang sama setiap liburan tiba? Mengapa selalu menjadi semacam ritual nasional: jalan padat, hotel penuh, dan bandara sesak?

BACA JUGA:Menakar Dampak Pemutihan Kredit Macet Petani dan Nelayan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: