Ritual Macet

Ritual Macet

ILUSTRASI Ritual Macet.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Ritual macet di setiap musim liburan di Bandung, Jogja, dan Bali mungkin bukan kesalahan branding itu sendiri. Persoalannya lebih kepada mengapa kita membiarkan city branding berjalan sendirian tanpa kebijakan yang mengiringinya.

Seharusnya kota tidak hanya menarik untuk didatangi. Tapi, juga layak untuk dihuni –oleh warganya dan oleh tamunya. Tanpa itu, kemacetan akan terus kita rayakan sebagai tradisi liburan. Sambil lupa bahwa ia adalah alarm sosial yang berbunyi terlalu keras untuk diabaikan.

Lah, terus Surabaya piye? Alih-alih terpikir mengatur dan mendistribusikan arus wisatawan yang berjubel. Memikirkan city branding pun kita masih gagap. Berlanjut dalam ketidakjelasan.

Padahal, banyak potensi yang bisa dikembangkan. Seperti MICE (meetings, incentives, conferences, exhibitions) dan shopping. Sesuatu yang pernah dimulai, tetapi tak diteruskan lagi. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: