Pameran Ilustrasi Obed Bima Wicandra Lawan Rasisme Lewat Sepak Bola

Pameran Ilustrasi Obed Bima Wicandra Lawan Rasisme Lewat Sepak Bola

Seorang mahasiswa UK Petra sedang mengamati ilustrasi pemain Persebaya, Jacksen F Tiago dalam pameran ilustrasi "Menang", Obed Bima Wicandra.-Syahrul Rozaq-

SURABAYA, Harian Disway – Bicara sepakbola lewat ilustrasi, kecam rasisme. Itulah yang dilakukan Obed Bima Wicandra, seniman sekaligus dosen UK Petra, dalam pameran tunggalnya yang bertajuk Menang. Pameran tersebut digelar di LOOK Galeri UK Petra Surabaya, selama 2 Mei  hingga 12 Mei 2023.

Tak dapat dimungkiri, sepakbola adalah salah satu corong efektif untuk menyuarakan ketidakadilan. Sebab, sepak bola memiliki jutaan penggemar di seluruh dunia. Jika perlawanan fisik maupun diplomasi tak efektif dilakukan, maka olahraga paling populer sejagat ini mampu memberi suara lebih tajam. Termasuk masalah kesetaraan hak dan kecaman terhadap rasisme.

’’Sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Dulu pemain AC Milan, Ruud Gullit, menyuarakan kegelisahannya terhadap rasisme,’’ ujar Obed Bima Wicandra. Dalam satu karyanya berjudul Gullit yang Bergulat dengan Identitas, ia melukiskan sosok wajah pemain timnas Belanda itu beserta kalimat yang menggugah.

BACA JUGA:Menengok Pameran Lukisan Merengkuh Jiwa di Balai Pemuda Karya Webeech dan Tar



Gullit sebenarnya dilahirkan dari ras campuran kulit putih dan kulit hitam. Ia mengeluh karena sering mendapat hinaan rasis. Dalam kiprahnya, Gullit dan banyak pemain lain yang menjadi korban, tak henti-hentinya menyuarakan anti-rasisme. ’’Bukankah setiap orang tidak pernah meminta ia dilahirkan oleh siapa,’’ ujar alumnus Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta tersebut.

Obed mencontohkan, pada 2020, klub-klub liga Inggris mengampanyekan Black Lives Matter di jersey mereka. Sebagai salah satu bentuk sikap melawan rasisme. Kemudian kampanye No To Racism yang dilakukan oleh UEFA.

Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, menulis dalam katalog pameran Menang. Bahwa sepakbola adalah mitos yang bertaut dengan semiotika. Keberhasilan Prancis menjuarai Piala Dunia 1998 menjadi mitos keberagaman, melawan mitos keseragaman yang digaungkan oleh ekstrem kanan.

Hingga pada 2022, komposisi pemain timnas Prancis sangat beragam. Fajar menulis: tim Prancis yang multikultural mematahkan mitos supremasi kulit putih yang menjadi angin kuat di benua biru. Partai kanan pendukung kulit putih hanya mampu beretorika. Membangkitkan kebencian terhadap kaum migran. Sementara pemain sepakbola membuktikan keberagaman adalah perayaan.

Pameran Menang juga mengungkapkan, sosok pemain sepakbola dapat menjadi ikon bagi sebuah daerah. Bahkan negara. Seperti Maradona sebagai ikon Argentina, Pele ikon Brazil. Di tingkat nasional, Eri Irianto menjadi ikon Persebaya dan Surabaya. Sedangkan Christian Gonzales merupakan ikon Persik, yang jadi kebanggaan masyarakat Kediri. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: