Meimura dan Gelak Tawa Taman Prestasi Surabaya

Meimura dan Gelak Tawa Taman Prestasi Surabaya

Meimura (kiri) dan Ucok (kanan-memegang saxophone) saling bergurau dalam acara "Ngejazz Rek". Mereka menghibur pengunjung Taman Prestasi Surabaya.-Moh Sahirol Layeli-

SURABAYA - HARIAN DISWAY - Budayawan nyentrik, pegiat seni pertunjukan tradisi Surabaya, Meimura, membuat tawa seluruh pengunjung Taman Prestasi, Surabaya, Sabtu, 13 Mei 2023. Pria yang identik dengan udeng Suroboyoan serta pakaian serba putih itu melontarkan candaan segar saat menampilkan kesenian Jula-Juli: pantun ala Surabaya yang jenaka.

Penampilan Meimura merupakan bagian dari event Ngejazz Rek, yang digagas oleh Surabaya Pahlawan Jazz. Masih satu rangkaian dengan gelaran Tanjung Perak Jazz yang berlangsung pada 8 Juni 2023 di Surabaya North Quay.

Budayawan itu tampil bersama grup Fusion Jazz Community. Setelah para musisi membawakan lagu-lagu jazz di atas perahu, Meimura tampil membawakan Jula-Juli. Tapi sebelumnya, ia sempat bercanda dengan R Boedi Setia (Ucok), pemain saxophone sekaligus koordinator Fusion Jazz Community.

"Nggawakno kidungan Jula-Juli ambek musik jazz iku angel lho (Membawakan kidung Jula-Juli diiringi musik jazz itu sulit)," ujar Meimura pada Ucok. Lantas, yang bersangkutan pun menjawab, "Iyo, yo. Nek ngono aku tak gak melok ae (Iya ya. Kalau begitu aku tidak ikut saja),"ujarnya.

Spontan, dialog antara keduanya itu membuat penonton tergelak. Beberapa dari mereka yang mengenal Meimura, menyahut dari atas, "Cak Mei, ayo Cak Mei, wes ndang ngidung (Ayo Cak Mei, segeralah bernyanyi). Meimura menjawab, "Iyo-iyo. Sek talah. Sabar, rek (Iya. Sebentar dong. Sabar)" lanjutnya.

Lalu meluncurlah lirik Jula-Juli itu: Nang Suroboyo numpak perahu, liwat Kalimas mbayar dewe-dewe. Cak, Ning Suroboyo, ngganteng lan ayu, ojok dipekso nek budal dewe. Sing penting podo senenge.

Jika diterjemahkan: Ke Surabaya naik perahu. Lewat Kalimas, bayar sendiri-sendiri. Cak, Ning Surabaya, ganteng dan cantik, jangan dipaksa jika berangkat sendiri. Yang penting sama-sama suka.

"Maksude, nek wes podo senenge, yo budalo bareng, rek (Maksudnya, kalau sudah sama-sama suka, segera berangkat bersama)," ujarnya. Makna pantun itu adalah jika kedua orang telah saling mencintai, maka seharusnya mereka 'berangkat' bersama. Bisa diartikan alan-jalan berdua atau diimbau segera melanjutkan ke jenjang pernikahan.

Jula-Juli ala Meimura tak sepenuhnya tentang candaan. Melainkan selalu terselip petuah. "Jadi yang mendengar bisa ketawa sekaligus merenungi maknanya. Tidak lantas tertawa saja. Apalagi kalau tertawa sendiri. Poleh koyok wong gendeng la'an (Kalau tertawa sendiri seperti orang gila)," ujarnya, saat diwawancara usai tampil.

Musik yang mengiringi Jula-Juli-nya juga diaransemen layaknya lagu Jawa pengantar lagu tradisi itu. Tentu dengan beberapa improvisasi yang membuatnya lebih modern. Meimura dan Fusion Jazz Community menghibur penonton hingga sekitar pukul delapan malam.

Para pengunjung Taman Prestasi pun mengapresiasi event tersebut. Meimura memungkasinya dengan nyanyian: Cekap semanten piatur kulo. Sae lan mboten kulo njaluk sepuro. Niku adate Arek Suroboyo (Cukup sampai di sini yang saya sampaikan. Bagus tidaknya, saya minta maaf. (Sebab) itu tradisi anak Surabaya). (Guruh Dimas Nugraha)

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: