Puri Ageng Blahbatuh, Gianyar (2): Topeng Gajah Mada Menyimpan Jejak Pertempuran Bali-Blambangan

Puri Ageng Blahbatuh, Gianyar (2): Topeng Gajah Mada Menyimpan Jejak Pertempuran Bali-Blambangan

Pintu menuju ruangan Balai Raja Dani, tempat penyimpanan topeng Gajah Mada. Di situ terdapat patung Garuda Wisnu Kencana. -Julian Romadhon-

HARIAN DISWAY - Topeng Gajah Mada di Puri Ageng Blahbatuh dikenal sebagai piranti suci. Keberadaannya cukup misterius. Topeng itu menyimpan jejak pertempuran Bali-Blambangan pada masa silam. Hingga kini disimpan di ruang sakral Raja Dani.

Secara keseluruhan ruang Puri Ageng Blahbatuh terdiri dari 18 mandala. Setiap mandala atau petak-petak kompleks tempat tinggal, dihuni keluarga bangsawan. Leluhur keluarga Puri Ageng Blahbatuh berasal dari Kediri. 

Trah dari Airlangga, berlanjut ke Arya Kepakisan yang memerintah di Klungkung. Hingga pada 1800an, pemerintahan dipindahkan ke Blahbatuh. Raja terakhir yang melalui upacara pelantikan atau upacara abhiseka adalah I Gusti Ngurah Djelantik XXII.

Setelahnya, raja-raja di situ hanya sebatas status. Sebagai pemimpin tertinggi. Pasca meninggalnya I Gusti Ngurah Djelantik XXIV, tak ada lagi raja di puri tersebut.
Balai Raja Dani, tempat penyimpanan topeng Gajah Mada dan berbagai pusaka suci dari Kerajaan Blambangan. -Julian Romadhon-

"Dulu, waktu upacara Ngaben ayah saya, dihadiri oleh ribuan masyarakat Gianyar. Bade atau pirantinya seberat 15 ton. Sangat ramai," ujar Agung Niti, putri pertama I Gusti Ngurah Djelantik XXIV.

Dia lalu menunjukkan foto ayahnya, yang berada di ruang dalam puri sebelah utara. Memasuki gapura candi bentar, di situ terdapat patung Wisnu mengendarai Garuda.

"Patung ini yang jadi inspirasi mahakarya Garuda Wisnu Kencana yang dibuat oleh I Nyoman Nuarta. Dulu, Nuarta kemari untuk melakukan observasi sebelum membuat patung GWK," ungkapnya.

Di balai bagian tengah ruangan, terdapat foto mendiang I Gusti Ngurah Djelantik XXIV. Agung menunjuk pada pin yang tersemat di ulu hati. Pin itu berbentuk bunga teratai, sebagai simbol penguasa Kerajaan Blahbatuh. 

"Biasanya, pin simbol raja diletakkan di dada kiri. Ini diletakkan di ulu hati. Sebab, memerintah harus dengan hati. Begitu pula keseharian beliau. Selalu rendah hati. Bijaksana, baik, dan bergaul tak pandang siapa," terangnya.

Sifat rendah hati dan ketokohan I Gusti Ngurah Djelantik XXIV mendapat tempat dalam masyarakat Bali. Terutama warga Gianyar, yang tinggal di sekitar kompleks Puri Ageng Blahbatuh. Saat raja itu berpulang dalam usia 73 tahun, semua warga memadati areal puri. Jumlahnya ribuan. Mengitari bade atau piranti Ngaben seberat 15 ton.

I Gusti Ngurah Djelantik XXVI pun pernah mengunjungi Desa Pakis di Kediri untuk menapak tilasi leluhurnya, Arya Kepakisan. Keturunan Raja Airlangga, penguasa Kahuripan. "Saya ikut juga waktu itu. Desa Pakis itu desa yang bersih, rapi dan asri. Kami ke sana dan beberapa orang tahu bahwa ayah saya keturunan Raja Airlangga," ungkapnya.
Ruang sakral sebelah utara, tempat kediaman bangsawan yang memiliki trah langsung raja. -Julian Romadhon-

Ageng bercerita bahwa saat itu ayahnya dibawa ke hutan, lalu menuju ke sebuah ruangan suci. Dalam ruangan itu terdapat sebuah batu. Konon jika keturunan Airlangga menyentuh batu itu akan terjadi peristiwa mistik. Untuk membuktikan bahwa orang itu benar-benar keturunan Airlangga.

"Ayah saya menyentuh batu itu lalu terdengar suara burung garuda, tunggangan Dewa Wisnu yang juga sebagai simbol Raja Airlangga. Dari situ orang-orang setempat jadi lebih yakin. Bahwa I Gusti Ngurah Djelantik XXIV punya trah Kahuripan," ungkapnya.

Beberapa simbol Wisnu memang ada di tiap balai di ruangan itu. Puri Ageng Blahbatuh dan keluarga bangsawan di dalamnya menekankan puja bakti terhadap sosok Wisnu sebagai manifestasi Ida Hyang Widhi Wasa yang memelihara alam semesta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: