Abstrak-Ekspresionis, Sabetan Kuas dan Pisau Palet Samurai Jalu (3): Memorabilia Bagi Para Dewasa

Abstrak-Ekspresionis, Sabetan Kuas dan Pisau Palet Samurai Jalu (3): Memorabilia Bagi Para Dewasa

Dalam gelaran pameran tunggal Samurai Jalu yang pertama yakni 19-31 Agustus 2023 di Joning ArtSpace, Bantul, Yogyakarta total ada 21 karya yang ditampilkan.-Arik SW-

HARIAN DISWAY – Melihat karya dalam pameran tunggal Samurai Jalu di Joning ArtSpace, Bantul, DIY, sejak 19 Agustus, mengingatkan pendapat Thomas Munro. Bahwa seni lukis adalah alat buatan manusia untuk menimbulkan efek psikologis atas manusia lain yang melihatnya.
 
Namun, masalahnya, orang dewasa masih cenderung memandang sebelah mata terhadap seni lukis anak. Sebagian besar orang dewasa mungkin menganggap goresan anak-anak hanyalah hal yang biasa saja. 
 
Padahal sebenarnya bisa sangat luar biasa. Karena di dalamnya terdapat kebebasan atau spontanitas anak dalam menggores serta keliaran mereka dalam berimajinasi.

BACA JUGA: Abstrak-Ekspresionis, Sabetan Kuas dan Pisau Palet Samurai Jalu (1): Berani Mengeksplorasi Gagasan
Melukis sebenarnya kegiatan yang sudah kita lakukan sejak kecil. Baik sekadar corat-coret pada dinding, meja, atau kertas. Bermacam gambar telah kita buat dengan menggoreskan alat tulis atau benda lainnya.
 
Pada saat itu kita tidak sekadar menggerakan jari-jemari, melainkan juga berusaha merefleksikan jiwa kita.
 
Pada dasarnya setiap individu memiliki aspek kreativitas dan kecerdasannya masing-masing. Seni dapat memfasilitasi setiap orang untuk secara kreatif menuangkan atau mencurahkan segala pikiran dan perasaannya. Baik secara sadar atau bahkan hanya mengikuti nalurinya.
 
Manusia selalu berusaha membahasakan apa yang ada dalam pikiran maupun perasaannya agar dapat diketahui orang lain, salah satu caranya melalui seni. Maka seni menjadi media ekspresi untuk mengungkapkan isi pikiran atau perasaan yang kemudian disajikan secara artistik. 
 
Setiap manusia termasuk anak-anak mempunyai cara tersendiri dalam mengkomunikasikan atau mengekspresikan perasaan yang akan membedakan mereka dengan yang lain, semua ini disebabkan adanya perbedaan dalam pikiran, latar belakang perkembangan, maupun pola asuh dalam keluarga. 
 
Maka, seni tidak hanya persoalan ekspresi perasaan semata tetapi sekigus mencakup persoalan nilai.

BACA JUGA: Abstrak-Ekspresionis, Sabetan Kuas dan Pisau Palet Samurai Jalu (2): Mencoba Mengembangkan Teknik Melukis
 
Setiap goresan anak sangat mencerminkan jiwa mereka. Jiwa kebebasan dan keluguan yang pernah ada dalam diri setiap orang tetapi kemudian mungkin terlupakan dan atau dipaksa melupakan disebabkan oleh berbagai faktor.
 
Maka, karya-karya Samurai bisa menjadi memorabilia bagi kita para orang dewasa. Betapa kita sebenarnya pernah mengalami periode ini dalam hidup kita, fase kebebasan bermain-main dengan goresan dan warna. 
 
Dari pamerannya kali ini, Samurai patut bersyukur karena periode ini telah terekam secara baik melalui karya-karya lukisnya. Tentu dalam hal ini peran orang tua sangat penting dalam memberi keleluasaan sekaligus faslitas yang dibutuhkan oleh anak.
 
Warna, bidang, garis, tekstur dan berbagai unsur nirmana telah diramu secara artistik oleh Samurai Jalu dalam karya-karya kanvasnya yang sebagian besar berukuran cukup besar bagi anak seusianya. (Oleh Arik S. Wartono: kurator, pendiri dan pembina Sanggar DAUN)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: