Nyepi di Bali: Pulau Hening Sehari, Pecalang Jaga Tradisi Sakral

Nyepi di Bali: Pulau Hening Sehari, Pecalang Jaga Tradisi Sakral

Seorang petugas keamanan lokal berdiri di jalan yang sepi saat Hari Raya Nyepi di Tuban, Pulau Resor Bali, Indonesia, pada 29 Maret 2025.-SONNY TUMBELAKA / AFP-

BALI, HARIAN DISWAY - Pulau BALI beristirahat sejenak. Hiruk pikuk wisatawan lokal maupun mancanegara, serta kemacetan lalu lintas, sekejap hening. Setidaknya untuk 24 jam ke depan. Umat Hindu sedang menjalani Hari Raya Nyepi.

Ritual tahunan itu merupakan bagian dari kalender Hindu yang dijaga ketat oleh para Pecalang. Mereka adalah tim keamanan adat yang bertugas memastikan ketertiban dan kekhusyukan hari suci tersebut.

Pulau yang Berhenti Beraktivitas Sejenak

Sejak pukul 06.00 WITA, seluruh aktivitas di Bali terhenti. Warga lokal dan wisatawan diwajibkan tetap berada di dalam rumah atau hotel masing-masing. Tidak ada lalu lintas kendaraan. 

Bahkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pun menghentikan operasinya selama satu hari penuh. Hanya layanan esensial seperti rumah sakit yang diperbolehkan beroperasi dengan penerangan terbatas.

BACA JUGA: Penerbangan Juanda–Ngurah Rai Dihentikan 24 Jam saat Hari Raya Nyepi, 32 Penerbangan Terdampak

Mereka yang memastikan peraturan itu dipatuhi adalah Pecalang, petugas keamanan adat Bali yang jumlahnya mencapai ribuan. Tak hanya menjaga ketertiban, mereka juga berperan dalam mengedukasi masyarakat non-Hindu tentang pentingnya perayaan Nyepi.

“Selain menjaga wilayah desa adat, Pecalang juga berkoordinasi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat yang bukan Hindu. Agar mereka bisa menghormati tradisi ini,” ujar Ketua Majelis Desa Adat Bali I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra.


Kepala keamanan Nyoman Sudiarsa (kanan) berbicara kepada seorang jurnalis saat Hari Raya Nyepi di Tuban, pulau resor Bali, Indonesia, pada 29 Maret 2025.-SONNY TUMBELAKA / AFP-

Tradisi yang Dijaga Ketat

Nyepi bukan sekadar hari tanpa aktivitas. Melainkan momen refleksi diri bagi masyarakat Bali. Selama 24 jam, umat Hindu tidak diperbolehkan bekerja, bepergian, atau menikmati hiburan. Lampu-lampu di jalan dan rumah pun harus dimatikan. 

Jika ada cahaya yang terlihat dari luar rumah, Pecalang tak segan-segan mengetuk pintu dan mengingatkan penghuni untuk mematuhinya.

“Ini bukan hanya tradisi satu kali, tapi berlaku seumur hidup bagi masyarakat Bali. Begitu seseorang menjadi Pecalang, tugas itu akan dijalankan hingga ia tidak mampu lagi,” kata Gede Kamajaya, dosen di Universitas Udayana, Bali.

BACA JUGA: Upacara Melasti Menyambut Hari Raya Nyepi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: