Akibat Tarif Impor Trump, Prapesan Nintendo Switch 2 Ditunda di Amerika

Akibat Tarif Impor Trump, Prapesan Nintendo Switch 2 Ditunda di Amerika

Tarif impor trump membuat Nintendo Switch 2 batal pre-order di Amerika. --Meowin

Namun, kini ketakutan terbesar mulai muncul: harga bisa naik. Tentu, bukan hanya konsolnya. Game, aksesori, hingga layanan online berlangganan—semuanya bisa terkena imbas.

Seorang pengguna Reddit lainnya menumpahkan kekecewaannya dengan terang-terangan.

"Aku udah rela bayar mahal demi Switch 2. Tapi sekarang? Tarif plus pajak penjualan plus tarif untuk game-nya juga??? Aku gak sanggup bayar USD 130 untuk satu game, atau USD 600 buat konsolnya. Ini gila," tulisnya.

Masalahnya bukan sekadar harga, tapi soal akses. Ketika barang hiburan berubah jadi barang mewah, siapa yang tersisih?

Nintendo selama ini dikenal sebagai merek ramah keluarga. Namun, tarif baru itu bisa mengubah persepsi itu secara drastis.

Aubrey Quinn, juru bicara dari Entertainment Software Association (ESA), memperingatkan bahwa hal tersebut bisa menjadi awal dari gelombang besar perubahan dalam industri.

"Tarif ini belum menunjukkan ujungnya. Dan jika Nintendo terdampak, perusahaan game lain kemungkinan besar akan ikut terkena," ujarnya.

BACA JUGA:Nintendo Switch 2: Lebih dari Sekadar Backward Compatibility

BACA JUGA:Nintendo Switch 2 Akan Menginovasi Penggunaan Game Card

Secara ekonomi, tarif adalah biaya tambahan yang biasanya dibebankan kepada konsumen akhir.

Artinya, jika tarif diberlakukan pada perangkat buatan Jepang atau Korea, maka harga jual di Amerika akan melonjak.

Itu artinya bukan hanya untuk konsol game melainkan secafra keseluruhan.

Dari sisi strategi, Nintendo sedang menimbang ulang semuanya. Apakah mereka akan menurunkan margin keuntungan demi menjaga harga?

Atau justru menunda lebih lama sampai kondisi membaik?

Dalam dunia game yang serba cepat dan kompetitif, menunda terlalu lama bisa membuat momentum hilang. Padahal, menahan harga terlalu rendah bisa membuat perusahaan rugi besar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: