Kiai Mif vs Gus Yahya di Pusaran Konflik PBNU
ILUSTRASI Kiai Mif vs Gus Yahya di Pusaran Konflik PBNU.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
BACA JUGA:Hasil Pertemuan Para Kiai: Tak Ada Pemakzulan terhadap Kepengurusan PBNU
Ia orang lama di inner circle NU sejak zaman Gus Dur. Ia ahli mengenai politik Islam Indonesia dan Asia. Ia mualaf sejak 2003 dengan nama Mochamad Cholil.
Taylor juga dekat dengan KH Mustofa Bisri (Gus Mus). Dalam program kaderisasi AKN NU, Gus Mus bertindak sebagai ketua. Dalam kasus pemecatan Gus Yahya, posisi Gus Mus berseberangan dengan Kiai Mif.
Taylor merekomendasikan pendekatan ”Islam Rahmatan Lil Alamin” dengan merangkul semua agama, termasuk Yahudi, dan menjadikan kasih sayang dan persaudaraan sebagai spirit agama.
Bagi Syuriah NU, Taylor dianggap sebagai duri dalam daging yang membahayakan citra dan eksistensi NU. Ketika gonjang-ganjing makin panas, Kiai Mif langsung memecat Taylor karena dianggap sebagai dalang yang membawa Gus Yahya makin dekat dengan zionisme.
Persaingan antara kekuatan liberal di tubuh NU melawan kubu tradisional konservatif sekarang menjadi terbuka. Syuriah NU di bawah Kiai Mif menjadi penjaga konservatisme NU. Sebaliknya, tanfidziyah di bawah Gus Yahya menjadi pendukung liberalisme. Persaingan itu bisa membawa perpecahan serius di tubuh NU.
Konflik semacam itu bukan kali pertama terjadi. Dulu, ketika Gus Dur menjadi ketua PBNU, juga terjadi gesekan dengan KH As’ad Syamsul Arifin sebagai mustasyar PBNU. Kiai As’ad merasa gerah oleh manuver Gus Dur yang sulit dipahami.
Kiai As’ad mengkritik Gus Dur karena sebagai ketua PBNU, ia masih merangkap sebagai ketua Dewan Kesenian DKI. Gus Dur aktif dalam berbagai kegiatan kesenian. Ia menjadi juri festival film nasional dan membuka acara pembacaan puisi di gereja. Kiai As’ad menyebut Gus Dur sebagai kiai yang menjadi pemimpin ketoprak.
Yang lebih membuat gerah adalah pemikiran liberal Gus Dur. Salah satu yang paling heboh adalah ide Gus Dur untuk mengganti ”assalamualaikum” dengan ”selamat pagi” atau ”selamat malam”.
Gagasan pribumisasi Islam itu sulit diterima para kiai sepuh. Puncaknya pada 1989, dalam muktamar NU, Kiai As’ad mengumumkan mufaraqah, yakni memisahkan diri dari kepemimpinan Gus Dur. Kiai As’ad menganggap Gus Dur batal sebagai imam salat karena sudah kentut.
Persaingan elite itu mengguncang PBNU. Namun, organisasi tidak pecah karena Kiai As’ad masih tetap menghormati Gus Dur sebagai zuriah keturunan langsung pendiri NU KH Hasyim Asy’ari. Sebaliknya, Gus Dur juga tetap hormat dan takzim kepada Kiai As’ad.
Konflik PBNU sekarang ini beda dimensi. Gus Yahya tidak berada di level yang sama dengan Gus Dur. Legitimasi intelektual dan nasab Gus Yahya belum sepadan dengan Gus Dur.
Legitimasi keilmuan dan nasab Gus Dur itu memberikan privilese kepada Gus Dur untuk bermanuver dengan ide-ide liberal yang dianggap nyeleneh. Itulah yang menyelamatkan Gus Dur dari serangan kiai sepuh. Tidak akan ada yang berani memecat Gus Dur.
Gus Yahya tidak punya privilese itu. Posisinya vulnerable alias rapuh dari pemecatan. Kalau Gus Yahya tetap bertahan, bisa dipastikan konflik internal akan makin keras dan dimensinya akan meluas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: