Menjaga Marwah NU ala Gus Dur: Keberanian Moral di Atas Segala Kepentingan

Menjaga Marwah NU ala Gus Dur: Keberanian Moral di Atas Segala Kepentingan

ILUSTRASI Menjaga Marwah NU ala Gus Dur: Keberanian Moral di Atas Segala Kepentingan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

DALAM lintasan sejarah panjang Nahdlatul Ulama, marwah organisasi ini tidak pernah berdiri semata-mata di atas struktur dan kekuatan massa. Ia tegak karena nilai-nilai yang diwariskan para muassis: keikhlasan, kesederhanaan, keberpihakan kepada rakyat kecil, dan keberanian menyuarakan kebenaran.

Di antara para penjaga nilai itu, nama Gus Dur menjadi salah satu yang paling menonjol. Ia tidak hanya memimpin, tetapi juga menjaga Nahdlatul Ulama (NU) dengan sikap moral yang kokoh, bahkan ketika seluruh arus kekuasaan bergerak ke arah yang bertentangan.

Dalam pandangan Gus Dur, NU adalah ruang khidmah, bukan wadah untuk memajang ambisi. Karena itu, ia selalu menolak memosisikan NU sebagai alat tawar-menawar politik. Pada masa ketika banyak organisasi Islam dikooptasi kekuasaan Orde Baru, Gus Dur memilih jalan lain: berdiri tegak menjaga jarak kritis.

BACA JUGA:Gus Dur dan Romo Mangun Diangkat sebagai Pahlawan Kemanusiaan Era Modern

BACA JUGA:Soeharto dan Gus Dur Masuk Usulan 10 Pahlawan Nasional

Keputusannya mengembalikan NU ke Khittah 1926 bukan sekadar restrukturisasi organisasi, melainkan  juga upaya memurnikan kembali niat jamiyah –bahwa NU harus tetap menjadi kekuatan moral yang menuntun masyarakat, bukan instrumen untuk mendukung kepentingan elite.

Keteguhan Gus Dur dalam menjaga marwah NU tampak dari keberaniannya menghadapi tekanan politik yang berkepanjangan. Ketika kritik kepada pemerintah bisa berujung pembungkaman, ia justru membuka ruang dialog, menyampaikan pandangan berbeda, dan membela mereka yang tak punya suara.

Dalam setiap kritiknya, Gus Dur menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu harus keras. Sering kali ia menggunakan humor, satire, dan kelakar khas pesantren –bahasa yang merendahkan ketegangan tanpa kehilangan ketajaman moral.

BACA JUGA:Haul Gus Dur Ke-15: Budaya Moderasi

BACA JUGA:Mega Gus Dur

Bagi Gus Dur, marwah NU tidak hanya terletak pada nama besar para kiai, tetapi juga pada sikap warganya. Ia menegaskan bahwa menjaga martabat jamiyah berarti menolak praktik-praktik yang merusak integritas, seperti politik uang, kultus berlebihan terhadap jabatan, dan fanatisme buta terhadap kelompok tertentu.

NU, menurutnya, harus menjadi teladan akhlak di ruang publik: jujur, terbuka, dan berani mengakui kesalahan. Kritik internal bukan tanda perpecahan, melainkan bentuk kecintaan yang dewasa.

Yang membuat Gus Dur istimewa adalah keberaniannya memperluas marwah NU hingga menyentuh seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang bukan bagian dari NU.

BACA JUGA:Haul ke-15 Gus Dur, Menag Ajak Teladani Keikhlasan dan Keberanian

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: