Review Jujur Game Bakso Malang Anomalies: Semenyeramkan Itukah?

Review Jujur Game Bakso Malang Anomalies: Semenyeramkan Itukah?

Walid dan Jule merupakah tokoh yang ada di game Roblox Bakso Malang Anomalies. --Dave Yehosua

HARIAN DISWAYRoblox kembali menghadirkan satu game unik yang ramai diperbincangkan, kali ini lewat Bakso Malang Anomalies. game ini menggabungkan konsep manajemen simulator dengan nuansa horor psikologis yang kental, dibalut latar budaya kuliner lokal yang akrab bagi pemain Indonesia.

Alih-alih mengelola restoran biasa, pemain dituntut menjalankan warung bakso di tengah situasi yang tidak sepenuhnya normal, di mana pelanggan yang datang tidak selalu manusia biasa.

Bakso Malang Anomalies merupakan game Roblox bergenre simulator-manajemen dengan sudut pandang orang pertama. Pemain berperan sebagai penjaga warung bakso yang harus melayani pelanggan, memasak, mengatur pesanan, sekaligus bertahan dari kehadiran entitas anomali (alias setan-setan buas).

Atmosfer permainan menjadi kekuatan utama game ini. Pencahayaan redup, desain suara yang minim namun penuh tekanan, serta tempo permainan yang pelan membuat rasa tidak nyaman terus terjaga sepanjang sesi bermain.

BACA JUGA:Bakso Malang Anomalies: Game Horor Indonesia di Roblox yang Viral di Dunia Internasional

BACA JUGA:7 Game Horor Roblox Terbaik 2025 Buat Gamers Indonesia, Enggak Cuma Andalkan Jumpscare


Pemain bertugas mennyiapkan pesanan bakso saat memainkan game Roblox Bakso Malang Anomalies. --Dave Yehosua

Daya tarik utama game ini terletak pada intensitas suasananya. Bermain sendirian sudah cukup membuat tegang, apalagi jika dimainkan bersama teman.

Interaksi antar pemain justru menambah keseruan karena rasa curiga dan waspada terus muncul setiap kali pelanggan baru datang. Tidak semua tamu memiliki gestur, dialog, atau perilaku yang normal. Pemain dituntut jeli mengamati detail kecil, mulai dari ekspresi wajah, kalimat yang diucapkan, hingga gerakan mencurigakan.

Dari sisi gameplay, Bakso Malang Anomalies mengusung mekanisme manajemen sederhana namun menuntut ketelitian. Kesalahan kecil dapat berujung pada konsekuensi yang tidak menyenangkan. Namun, seiring waktu, pola permainan mulai terasa repetitif.

Kehadiran fitur “mata batin” (Third Eye) yang seharusnya membantu mengidentifikasi anomali sayangnya kurang memberikan dampak signifikan. Sebagian besar pelanggan anomali sudah memperlihatkan kejanggalan lewat dialog atau perilaku mereka, sehingga fitur tersebut terasa seperti pelengkap, bukan elemen krusial.

BACA JUGA:Disney Tunda Kolaborasi dengan Roblox Karena Masalah Predator Anak

BACA JUGA:Rusia Blokir Roblox, Dianggap Propaganda LGBT

Repetisi juga diperparah oleh minimnya variasi mini game dan aktivitas pendukung. Sistem manajemen yang monoton membuat pengalaman bermain terasa datar ketika dimainkan dalam durasi panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: