Ujian Surabaya sebagai Kota Moderasi: Simbol Keberagaman

Ujian Surabaya sebagai Kota Moderasi: Simbol Keberagaman

ILUSTRASI Ujian Surabaya sebagai Kota Moderasi: Simbol Keberagaman.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

SURABAYA dikenal sebagai kota metropolitan di Indonesia yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga menjadi etalase Indonesia dalam keberagaman. SURABAYA adalah melting pot bukan karena semua orang melebur menjadi sama, melainkan karena banyak latar berjumpa di ruang temu yang sama. 

Menurut sejarawan Universitas Airlangga Purnawan Basundoro, Surabaya adalah kota urban dengan kemajemukan berlapis: relasi antarkelompok, pertumbuhan kampung-kampung kota, dan dinamika sosial sejak masa kolonial.

Kota majemuk mudah menjadi kota yang bising bila tidak punya perekat. Kemajemukan bisa melahirkan suka, tetapi juga bisa melahirkan luka. Karena itu, tidak cukup membaca Surabaya sebagai kota yang majemuk, tetapi juga menuntut sebuah moderasi.

Dinamika masyarakat Surabaya yang terdiri atas berbagai suku, agama, ras, dan budaya menjadikan kota itu sebagai laboratorium hidup moderasi sosial. Moderasi yang bukan sekadar slogan, melainkan juga terejawantah dalam interaksi sosial sehari-hari.

Moderasi di Surabaya dapat dipandang sebagai sikap keseimbangan antara keyakinan pribadi serta penghormatan terhadap keyakinan orang lain. Dalam kajian kontemporer, moderasi merupakan jalan tengah yang menyeimbangkan komitmen moral dan kebiasaan sosial sehingga memungkinkan masyarakat menerima perbedaan dalam kerangka hukum dan etika bersama. 

Moderasi tidak hanya menyangkut proses keyakinan beragama, tetapi juga praktik sosial toleransi atas perbedaan. Toleransi di masyarakat plural harus dibangun melalui strategi moderat yang memupuk rasa saling menghormati terhadap perbedaan serta mencari kesepahaman bersama. 

Menjelang akhir tahun 2025 sampai awal tahun 2026 ini kita dipertontonkan beberapa peristiwa yang berpotensi konflik di Surabaya. Mulai hegemoni ras di ruang publik, arogansi ormas suku tertentu, sampai pemblokiran jalan oleh pendemo menjelang Hari Raya Natal. Hal tersebut tentu akan menjadi bom atom di kemudian hari jika dinormalisasi.

Keberagaman komunitas Jawa, Madura, Tionghoa, Arab, dan kelompok suku lainnya di Surabaya menjadi bukti nyata bagaimana pluralitas seharusnya diterjemahkan menjadi sebuah kekayaan budaya dan bukan sebagai sumber konflik. Keharmonisan antarsuku, agama, ras, dan antar golongan menjadi elemen penting yang harus senantiasa dijaga.

Surabaya hari ini tengah berada pada titik rawan yang tidak boleh diabaikan. Di balik citranya sebagai kota metropolis yang maju dan dinamis, tersimpan potensi konflik yang kian mengeras, gesekan antarkelompok yang merasa paling berhak, paling kuat, dan paling berkuasa atas ruang-ruang hidup kota, terutama pada sektor informal.

Robbie Peters, dalam Surabaya, 1945-2010: Neighberhood, State and Economy in Indoesia’s City of Struggle, menggambarkan bagaimana kehidupan masyarakat Surabaya, termasuk kampung-kampungnya, membentuk solidaritas dan participative citizenship, yang secara implisit mendukung harmoni sosial antar berbagai kelompok dalam struktur kota. 

Kasus penggusuran nenek Elina oleh oknum ormas tertentu menjadi hangat ketika diangkat dan digiring di media sosial oleh netizen. Narasi yang dibangun sedemekian rupa dan disengaja untuk mengadu domba antarkelompok akan sangat mudah menjadi pemantik terjadinya konflik horizontal, apalagi melihat suasana kebatinan warga Kota Surabaya yang sedang kesal terhadap oknum tersebut.

Kesadaran akan keberagaman dan semagat persatuan harus senantiasa kita jaga bersama, derasnya arus informasi di media sosial ikut menjadi potensi pemecah belah, itu dibutuhkan paradigma yang sama untuk bisa saling jaga. 

Perubahan paradigma menjadi penting dalam menjaga keberagaman. Selama identitas SARA ditempatkan sebagai titik utama, relasi sosial akan mudah terjebak dalam sekat primordial, solidaritas sempit, klaim wilayah, hingga pembenaran kekerasan atas nama kelompok.

Pendidikan menjadi alat penting dalam internalisasi nilai moderasi dan toleransi. Internalisasi nilai toleransi melalui proses pendidikan formal dan sosial adalah salah satu cara untuk membangun sikap saling menghormati sejak dini. Dimulai dari lingkungan sosial terdekat, tempat tinggal, sekolah/kampus, hingga tempat kerja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: