Ujian Surabaya sebagai Kota Moderasi: Simbol Keberagaman

Ujian Surabaya sebagai Kota Moderasi: Simbol Keberagaman

ILUSTRASI Ujian Surabaya sebagai Kota Moderasi: Simbol Keberagaman.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Di sisi lain, tokoh agama dan pemimpin organisasi masyarakat juga memainkan peran penting dalam menguatkan nilai-nilai moderat di komunitas lokal. Peran mereka tidak hanya memimpin di ruang ritual peribadatan atau mobilisasi massa, tetapi juga perlu menjadi simpul persatuan dan mediator dialog di antara kelompok yang berbeda suku, ras, dan antar golongan.

Selain itu, pemerintah dan aparat penegak hukum dalam hal ini harus tegas terhadap oknum-oknum yang sengaja ingin memecah belah, memicu konflik SARA, dan membuat ”onar”. Kehadiran organisasi masyarakat harus jelas dan terdaftar sebagai konsekuensi negara hukum. Negara jangan sampai dikalahkan oleh anarkisme berlandaskan sekelompok massa tertentu.

Tantangan Surabaya sebagai kota melting pot harus tetap menjaga keberagaman. Konflik berbasis suku, agama ras, dan antar golongan akan tetap mengeksis di berbagai daerah di Indonesia. 

Itu menunjukkan bahwa moderasi harus terus diperkuat dalam berbagai sektor kehidupan. Dari pendidikan hingga kebijakan publik. Tanpa pendekatan moderat terhadap kehidupan bermasyarakat, risiko konflik sosial dan disintegrasi sosial dapat meningkat secara signifikan.

Moderasi bukan hanya konsep ideal, melainkan juga praktik kehidupan yang harus terus diperkuat dalam struktur sosial yang manusiawi, toleran, dan berkeadilan. Dengan sinergi nilai-nilai itu, Surabaya dapat menjadi model bagi kota-kota lain dalam menghadapi tantangan pluralisme ke depan. (*)

*) Febryan Kiswanto adalah ketua Karang Taruna Surabaya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: