Persebaya Bak Inter Milan Era Jose Mourinho, Disiplin, Cepat, dan Agresif!
Selebrasi Gali Freitas (depan) pasca mencetak brace ketika Persebaya menekuk Malut United 2-1, Sabtu, 10 Januari 2026.-Boy Slamet-Harian Disway
HARIAN DISWAY - Persebaya memasuki era baru di bawah arahan pelatih asal Portugal, Bernardo Tavares. Kedatangan Tavares membawa harapan bagi Bonek untuk melihat Bajol Ijo (sebutan Persebaya) kebali berjaya.
Gaya bermain cepat dan agresif yang menjadi ciri khas Tavares, mengingatkan banyak pihak pada kesuksesan Inter Milan di era Jose Mourinho. Tepatnya, pada 2010, ketika Nerazzurri (sebutan Inter Milan) merengkuh trebel winner.
Kalau dilihat dari ilmu cocokologi, ada kesamaan antara Persebaya dan Inter Milan era Mou (sapaan akrab Mourinho). Pertama, Bernardo Tavares berasal dari Portugal, Mou pun sama. Berasal dari Portugal.
Gaya bermainnya juga sama. Bertahan dan menerapkan serangan balik. Cepat dan efektif, karena didukung pemain-pemain cepat.
Mampukah Persebaya meniru jejak Inter Milan yang kala itu merajai Italia dan Eropa?
BACA JUGA:Profil Gelandang Baru Persebaya, Pedro Matos, Si Playmaker Serbabisa
BACA JUGA:Persebaya Datangkan Pedro Matos, Tandem Rivera di Lini Tengah
Filosofi Serupa Antara Persebaya dan Inter Milan Era Mou

Jose Mourinho (kiri) ketika melatih Inter Milan dan sukses membawa Nerazzurri meraih trebel winner pada 2010.-Getty Images-
Bernardo Tavares dikenal sebagai pelatih yang mengutamakan permainan transisi cepat dan pressing ketat. Ia ingin timnya merebut bola secepat mungkin dan langsung melancarkan serangan balik yang mematikan.
Filosofi tersebut sejatinya tidak jauh berbeda dengan gaya bermain yang diterapkan Jose Mourinho di Inter Milan pada musim 2009/2010.
Mourinho kala itu berhasil meramu Inter Milan menjadi tim yang sangat solid dalam bertahan dan sangat efektif dalam menyerang.
Nerazzurri tak selalu mendominasi penguasaan bola, tapi mereka sangat mematikan dalam memanfaatkan setiap peluang yang didapat. Keberhasilan Inter Milan meraih treble winner di musim itu menjadi bukti sahih efektivitas strategi Mourinho.
Kalau dilihat dari sisi penyerang, Inter Milan kala itu dihuni pemain yang cepat. Misalnya, Diego Milito dan Samuel Etoo. Postur mereka tak terlalu tinggi, tapi ketika melancarkan serangan balik, bisa dipastikan itu menjadi peluang berbahaya.
BACA JUGA:Nasib Dejan Tumbas di Persebaya Pasca Kedatangan Jefferson Silva, Tergantikan?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: