Duet KH Imam Jazuli dan KH Asep Saifuddin, Jawaban Konkret untuk Muktamar Ke-35 NU
KH Asep Saifuddin Chalim (kiri) dan KH Imam Jazuli adalah duet ideal untuk kaum nahdliyin.-Istimewa-
BACA JUGA:KH Imam Jazuli Ikut Arahan Kiai Lirboyo Dukung AMIN: Sami'na Wa'atho'na
”Saatnya NU tidak cukup hanya ngurusi orang meninggal, mulai dari talkin, 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, hingga haul. Itu penting, tapi yang mendesak adalah ngurusi yang masih hidup,” ujar Kiai Imam dalam sambutannya yang berapi-api di depan kader Pergunu, ketika menakar masa depan NU.
Pernyataan itu menekankan bahwa NU harus berfokus pada peningkatan SDM yang mampu bersaing, peningkatan taraf ekonomi warga, dan penguatan pola pikir yang modern tetapi tetap santun.
Dengan menyiapkan kader yang unggul, diharapkan NU mampu bertransformasi. Tidak hanya kuat di struktur keagamaan, tetapi juga siap secara sosial-politik dan berdaulat secara ekonomi.
Sinergi antara Kiai Asep dan Kiai Imam Jazuli menjadi jawaban atas kebutuhan NU di Muktamar ke-35 nanti: sebuah transformasi dari jam'iyah yang lebih sering hanya fokus pada tradisi ritual menjadi penggerak peradaban, pendidikan, dan ekonomi umat.
Visi tersebut adalah jawaban langsung terhadap tantangan Indonesia Emas 2045. Mereka tidak lagi bicara tentang NU yang sekadar menjadi objek politik, tetapi juga NU sebagai subjek pembangunan yang menyiapkan teknokrat, diplomat, dokter, dan ilmuwan yang berkarakter santri. Keunggulan duet ini dalam jajak pendapat PadaSukaTV dapat dianalisis melalui tiga aspek.
Pertama, Kemandirian Ekonomi dan Organisasi.
Masyarakat melihat keduanya sebagai figur yang mandiri secara finansial. Hal itu memberikan jaminan bahwa PBNU di masa depan tidak akan mudah ”disetir” oleh kepentingan donor politik praktis. Mereka membawa modal kemandirian pesantren ke dalam struktur organisasi.
Kedua, Representasi Geopolitik Jabar-Jatim.
Pertemuan di Cirebon (Jawa Barat) semalam menegaskan soliditas poros Jabar-Jatim. Kiai Imam Jazuli sebagai motor penggerak pemikiran progresif di Jawa Barat bersanding dengan Kiai Asep yang merupakan pilar utama dari Jawa Timur. Itu adalah kombinasi kekuatan kultural NU yang paling stabil.
Ketiga, Keseimbangan Intelektual dan Spiritual.
Kiai Imam Jazuli mewakili figur intelektual muda yang tajam dan berani melakukan terobosan manajemen, tetapi secara spiritul juga kuat dikenal sebagai Mujiz Dalailul khairat, sedangkan KH Asep adalah sosok kiai sepuh yang alim, ahli riyadhah (jalur langit), tetapi memiliki eksekusi manajerial yang handal melalui Pergunu.
Jadi, pertemuan 25 Januari 2026 di Bina Insan Mulia itu adalah momentum ”pulang ke rumah” bagi NU. Selama ini, ada kesan bahwa struktur NU mulai menjauh dari akar rumput pesantren.
Duet KH Imam Jazuli sebagai calon ketua umum tanfidziyah dan Prof KH Asep Saifuddin Chalim sebagai calon rais aam adalah upaya rekonsiliasi historis untuk mengembalikan marwah NU ke tangan para kiai yang benar-benar mengasuh santri.
Dukungan publik yang terekam dalam jajak pendapat PadaSukaTV menunjukkan bahwa nahdliyin menginginkan pemimpin yang ”berkarya dulu, baru memimpin”, bukan yang ”memimpin dulu untuk mencari karya”.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: