KH Imam Jazuli, sang Pendobrak yang Istiqamah Melawan Arus
KH Imam Jazuli adalah pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Kabupeten Cirebon, Jawa Barat, dan alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. -Istimewa-
MELIHAT sosok KH Imam Jazuli hari ini, yang mengasuh dan berdiri di tengah ribuan santri di Pesantren Bina Insan Mulia, ingatan saya justru kerap melompat jauh ke belakang –ke lorong-lorong Kairo yang berdebu, ke aroma teh di kedai kopi pinggir jalan, dan ke ruang-ruang diskusi yang penuh asap rokok serta argumen yang meledak-ledak.
Bagi lebih dari 5.000 santrinya, ia adalah kiai. Teladan dan ayah ideologis. Namun, bagi saya, ia tetaplah Izul; sosok sahabat yang sejak masa mahasiswa di Al-Azhar telah memilih jalan hidup sebagai ”sang pengganggu” kemapanan berpikir.
Kenangan saya paling lekat bermuara pada meja redaksi. Saat itu kami bersama-sama mengelola buletin mahasiswa Terobosan, lalu berlanjut di Jurnal Nuansa (KMNU) dan di ICMI Orsat Cairo.
BACA JUGA:Duet KH Imam Jazuli dan KH Asep Saifuddin, Jawaban Konkret untuk Muktamar Ke-35 NU
BACA JUGA:KH Imam Jazuli Ikut Arahan Kiai Lirboyo Dukung AMIN: Sami'na Wa'atho'na
Di sanalah saya melihat bagaimana nalar kritis Izul bekerja. Ia bukan tipe pemikir yang puas dengan sekadar menghafal teks-teks klasik tanpa kontekstualisasi.
Izul adalah musuh bebuyutan bagi ”mentalitas sektarian”. Ia sering kali melempar kritik tajam kepada kawan-kawan mahasiswa yang lebih senang menghabiskan waktu di sekretariat organisasi kedaerahan tanpa bobot akademis yang jelas. Baginya, menjadi mahasiswa adalah tugas intelektual, bukan sekadar gaya-gayaan berorganisasi.
Ada satu fragmen ingatan yang tak mungkin luntur: peristiwa di Senat Ushuluddin Universitas Al-Azhar Mesir -PPMI.
Saat itu, dengan gagah dan berani, Izul sebagai ketua senat mengundang tokoh Kristen Koptik Mesir, Milad Hana, untuk narasumber seminar. Di tengah iklim mahasiswa yang mungkin masih kaku, ia berani mendobrak sekat eksklusivisme.
BACA JUGA:Surat Terbuka Kiai Imam Jazuli ke Gus Yahya: Jiwa Besar Santri akan Manut Kiai
BACA JUGA:Imam Jazuli Usulkan Gus Yahya Langsung Diangkat Jadi Wakil Rais Aam: Win-Win Solution
Puncak dari ”keliaran” ijtihad politiknya adalah ketika ia menjadi pendiri dan ketua partai PDIP Perwakilan Mesir (Anis Maftuchin sebagai sekjend dan Guntur Romli sebagai bendahara) –ini adalah sejarah, ketika membidani lahirnya organisasi politik nasionalis sekuler di gerbang Al-Azhar, Mesir.
Saat banyak mahasiswa Azhar masih berdebat apakah ”politik Islam” itu wajib, Izul sudah melompat jauh ke depan dengan sebuah tesis sederhana tetapi mendalam: ”Berpartai adalah soal ijtihad”.
Ia meyakini bahwa pengabdian kepada bangsa tidak harus selalu dipasung dalam simbol-simbol agama yang formalistis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: