KH Imam Jazuli, sang Pendobrak yang Istiqamah Melawan Arus

KH Imam Jazuli, sang Pendobrak yang Istiqamah Melawan Arus

KH Imam Jazuli adalah pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Kabupeten Cirebon, Jawa Barat, dan alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. -Istimewa-

LUKA SEBAGAI SAKSI INTELEKTUALITAS

Kritis tidak berarti tanpa risiko. Izul adalah pribadi yang gentle. Saya teringat ketika ia menulis kritik keras soal sektarianisme yang menyinggung salah satu organisasi kedaerahan. Alih-alih lari, ia memenuhi undangan organisasi tersebut untuk mempresentasikan pemikirannya.

Namun, kejujuran intelektual terkadang harus dibayar mahal. Saat berpamitan pulang, ia menerima kekerasan fisik dari ratusan oknum mahasiswa yang tidak siap menerima otokritik. 

Di titik itulah, saya melihat kualitas seorang Imam Jazuli: ia tidak gentar oleh bogem mentah. Baginya, kebenaran yang diyakini harus disampaikan meski tubuh harus menjadi sasarannya.

Jika dibandingkan dengan sahabat kami, Gus Zuhairi Misrawi (dubes RI untuk Tunisia) yang kritisismenya lahir dari pergulatan teks-teks akademis yang ketat, Izul memiliki corak yang berbeda. 

Kritisisme Izul adalah kritisisme lapangan –sebuah perpaduan antara pembacaan realitas sosial dan keberanian untuk bersikap tidak populer. Izul sering menulis opini yang anti-kemapanan, sedangkan Zuhairi lebih memilih artikel ilmiah. 

Melihat tulisan-tulisan dan sikapnya hari ini –terutama dalam mengkritisi dinamika internal NU dan isu-isu nasional lainnya– banyak orang mungkin kaget dengan gayanya yang tetap ”pedas”. Namun, bagi saya, itu bukan hal baru. 

KH Imam Jazuli tetaplah Izul dan tidak berubah. Ia hanya bertransformasi dari seorang mahasiswa aktivis menjadi seorang kiai aktivis.

Dan, ia tetaplah ”pendobrak” yang sama. Kesuksesannya membangun pesantren dengan ribuan santri tidak membuatnya menjadi ”jinak” oleh kemapanan posisi. Ia tetap istiqamah di jalur ”melawan arus”. 

Ia mengajari kita bahwa menjadi santri atau kiai tidak berarti harus kehilangan daya kritis. Justru, kecintaan kepada lembaga (seperti NU) atau bangsa dibuktikan dengan keberanian untuk menunjukkan lubang-lubang yang perlu ditambal.

Tentu saja, sahabatku, KH Imam Jazuli, adalah pengingat hidup bahwa kejujuran berpikir adalah aset paling berharga seorang manusia. 

Dari meja redaksi Terobosan hingga mimbar Pesantren Bina Insan Mulia, ia tetap memegang teguh satu prinsip: Berani berpikir, berani berijtihad, dan berani menanggung konsekuensi. 

Terima kasih, Zul, telah menjadi cermin yang terkadang menyilaukan, tetapi selalu mampu memperlihatkan bagian wajah kita yang kotor agar kita mau membasuhnya. (*)


*) KH Fadhil Rahmi, Lc., M.A., anggota DPD RI Periode 2019–2024 dan pimpinan Pesantren Modern Al Zahrah, Bireuen, Aceh. -Dok. Pribadi-

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: