Gabe Newell: Steam Tak Monopoli Pasar Game PC, Valve Tidak Ikut Atur Harga Developer

Gabe Newell: Steam Tak Monopoli Pasar Game PC, Valve Tidak Ikut Atur Harga Developer

Gabe Newell bantah dugaan monopoli harga pada platform jualan gamenya, Steam. --Gamerant

HARIAN DISWAY – CEO Valve Gabe Newell angkat bicara terkait tuduhan monopoli yang selama beberapa tahun terakhir membayangi platform distribusi game digital Steam.

Dalam dokumen transkrip pengadilan yang baru terungkap ke publik, Newell menegaskan bahwa Valve tidak pernah mengatur harga game yang dijual pengembang di platform lain.

Pernyataan tersebut muncul sebagai bagian dari gugatan antimonopoli yang diajukan oleh pengembang independen Wolfire Games LLC sejak 2021.

Valve dituduh menyalahgunakan dominasi Steam di pasar game PC melalui kebijakan Most Favored Nation (MFN) atau perlakuan harga paling menguntungkan.

BACA JUGA:Harga Steam Deck OLED Naik Drastis, Bisa Picu Kenaikan Harga PS6 dan Xbox Helix

BACA JUGA:Daftar Kenaikan Harga Steam Deck OLED, Tembus Belasan Juta Rupiah untuk Varian 512GB dan 1 TB

Menurut Wolfire Games, kebijakan tersebut membuat pengembang tidak dapat menjual game dengan harga lebih murah dari yang dipatok Steam. Akibatnya, dominasi Valve dalam industri distribusi game PC makin kuat.

Dalam transkrip yang diperoleh Bloomberg, Newell secara tegas membantah tuduhan tersebut. "Valve tidak memiliki kebijakan atau praktik yang mengatur harga dari pengembang perangkat lunak pihak ketiga di platform lain," terangnya. 

Ia juga mempertanyakan dasar dari tuduhan monopoli tersebut. Menurutnya, pasar distribusi game PC saat ini sangat kompetitif karena pemain punya banyak pilihan untuk membeli game dari berbagai platform digital.

Newell mencontohkan keberadaan toko digital lain seperti Epic Games Store maupun ekosistem Xbox yang menawarkan alternatif bagi konsumen maupun pengembang.

BACA JUGA:Kemkomdigi Analisis Rating Game Steam yang Tak Sesuai Klasifikasi Usia

BACA JUGA:Picu Protes dari Kalangan Gamer, Komdigi Tegaskan Label IGRS di Steam Belum Terverifikasi


STEAM dituding memonopoli harga pada platform penjualan game online. --Steam

"Pengguna PC bebas membeli game dari toko mana pun yang mereka inginkan," tegasnya. Meski demikian, gugatan terhadap Valve masih terus berjalan hingga saat ini.

Salah satu fokus utama dalam kasus tersebut adalah model pembagian pendapatan Steam yang selama bertahun-tahun menetapkan potongan sebesar 30 persen dari setiap penjualan game.

Para penggugat menilai posisi dominan Steam membuat Valve mampu mempertahankan skema tersebut tanpa tekanan kompetitif yang berarti.

Sebagai perbandingan, Epic Games Store menawarkan model yang lebih agresif dengan hanya mengambil 12 persen dari pendapatan pengembang setelah melewati ambang pendapatan tertentu. Bahkan pada tahun pertama, Epic tidak membebankan biaya untuk pendapatan hingga satu juta dolar AS.

BACA JUGA:Valve Putuskan Steam Machine Ditunda, Antusiasme Terlalu Besar, Stok Komponen Belum Aman

BACA JUGA:Bocoran Harga Steam Machine Valve Muncul, Tembus Rp16 Jutaan?

Selain persoalan bagi hasil, gugatan tersebut juga menyinggung tentang aturan tidak tertulis yang memungkinkan Valve menekan pengembang untuk mempertahankan harga tertentu.

Bahkan, muncul klaim bahwa beberapa penerbit besar, termasuk Ubisoft, pernah mendapat ancaman penghapusan game dari Steam apabila menjual produk dengan harga lebih murah di platform pesaing.

Namun, Newell membantah keras tuduhan tersebut dan menyatakan tidak ada kebijakan internal yang mendukung praktik seperti itu.

Kontroversi ini muncul di tengah pertumbuhan bisnis Steam pesat. Berdasarkan laporan DemandSage, pendapatan Steam pada 2026 diperkirakan telah melampaui USD10 miliar atau sekitar Rp163 triliun.

BACA JUGA:Kalahkan Clair Obscur, Hollow Knight Silksong Raih Game of the Year di The Steam Awards 2025

BACA JUGA:Gabe Newell Soroti Sikap Toxic Pemain DOTA 2 di The International 2025

Besarnya pengaruh Steam di industri game PC membuat Valve semakin sering menjadi sasaran gugatan hukum. Selain kasus antimonopoli, perusahaan juga menghadapi berbagai tuntutan lain terkait mekanisme loot box pada Counter-Strike 2, Dota 2, dan Team Fortress 2, serta dugaan penggunaan karya berhak cipta tanpa izin di Inggris.

Hingga saat ini, belum ada keputusan final dari pengadilan terkait kasus antimonopoli tersebut. Namun, dipastikan keputusannya akan berdampak besar terhadap masa depan distribusi game digital dan hubungan antara platform dengan pengembang game di seluruh dunia. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: