IHSG Rontok, Permainan atau Mekanisme Pasar
ILUSTRASI IHSG Rontok, Permainan atau Mekanisme Pasar.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
BACA JUGA:Saham IHSG Anjlok, Menkeu Purbaya: Jangan Takut, Fondasi Kita Bagus!
Di bursa, tidak banyak ”pemain” pemeringkatan seperti MSCI, seperti halnya di sektor kredit. Kita memiliki PT Pemeringkat Efek Indonesia yang sayangnya belum mendunia dan hanya terkait obligasi. Dengan demikian, pengaruhnya tidak sebanding dengan MSCI. Kabarnya, baru Februari 2026 nanti lembaga pemeringkat efek global, yakni FTSE, subsidiary, London Stock Exchange Group akan merilis laporan mereka.
Kembali soal MSCI. Apakah MSCI bersih dari kepentingan bisnis ataukah hanya penyedia data objektif?
Saya tidak mau menuduh, tetapi sekadar menunjukkan bahwa MSCI terafiliasi. Ada Vanguard, Blackrock, dan State Street Global Advisory. Dua nama yang saya sebutkan itu juga pialang dan anak usaha mereka ikut nimbrung di BEI. Mereka ikut mencari cuan di bursa kita, dan itu tidak salah. Sah-sah saja.
Pertanyaan lanjutan, dari aksi jual dua hari lalu dan aksi beli kemarin, dari pembalikan saham yang rendah lalu rebound, apakah mereka tidak mendapatkan untung? Di balik kepercayaan, tidak salah kita menitipkan sedikit pertanyaan kritis soal itu.
Kita juga harus jernih dalam membandingkan dan menilai sesuatu. Bursa saham kita tidak dalam, meskipun ada peningkatan yang baik, jumlah investor saham kita baru 19 juta, sementara di New York Stock Exchange mencapai 162 juta warga Amerika Serikat.
Perbedaan itu bisa kita baca investor kita di BEI inklusinya masih rendah. Sebab, literasi rakyat kita tentang saham masih minimalis jika dibandingkan dengan jumlah penduduk keseluruhan. Rendahnya literasi itu kadang bahkan terkait soal pengisian administrasi, sebagaimana yang ditemukan oleh MSCI. Dan, hendaknya hal itu juga menjadi atensi dari OJK.
Akibat ”ancaman” MSCI itu, saya justru mengkhawatirkan nasib para investor ritel di saham, mereka baru investasi kecil-kecilan, modal mereka bisa erosi, bahkan lenyap dalam sekejap. Dampaknya bisa traumatis.
Mereka bisa jera main saham, terutama di kalangan para pemula. Padahal, kita selama ini bekerja keras memperbaiki literasi. Agar investor di BEI makin banyak. Itu suatu langkah untuk menipis otoritas bursa tidak transparan dan permainan saham hanya dikendalikan sejumlah kecil pemegang saham.
Terlalu dini sangkaan MSCI terkait kepemilikan saham yang hanya dikendalikan sedikit orang dan tidak transparan, jika pangkal masalahnya di pembaruan administrasi yang tidak dilakukan oleh OJK. Hal itu perlu pembuktian lebih lanjut. Dan, saya kira, saya akan menerima sepenuhnya jika pembuktian itu benar, tetapi fact finding-nya harus konkret.
Namun, kita juga harus membaca tentang dilema bursa kita yang masih dangkal karena belum banyaknya minat investor. Dan, itulah tantangan BEI, tantangan para emiten yang hendak mencari modal. Kalau faktanya minat investor di BEI masih kecil, lalu dibaca sebagai pengendalian saham oleh segelintir investor, saya kira perlu hati-hati menafsirkan soal itu.
Justru saya mendorong perlu lembaga pembanding untuk men-challenge laporan MSCI. Hal itu penting agar investor global tidak disuguhi ”kebenaran tunggal”. Bukankah dalam dunia bisnis praktik second opinion itu sangatlah wajar.
Dan, itu kita perlukan saat ini. Agar makin memberikan kejernihan bagi investor di bursa saham Indonesia, agar advisory yang muncul benar-benar saran untuk membangun market yang sehat, bukan bagian dari sindikasi aksi goreng saham. (*)

Said Abdullah, Ketua DPD PDIP Jatim, Ketua Banggar DPR RI yang juga Ketua Dewas Dekopin.-PDIP Jatim-
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: