Rupiah Digital: Ketika Kecepatan Uang Menjadi Risiko Baru

Rupiah Digital: Ketika Kecepatan Uang Menjadi Risiko Baru

ILUSTRASI Rupiah Digital: Ketika Kecepatan Uang Menjadi Risiko Baru.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Dengan kata lain, risiko pasar digital tidak hanya berdampak pada investor, tetapi juga pada keberlanjutan kebijakan publik.

Meski demikian, rupiah digital bukanlah sumber masalah, melainkan alat baru dengan karakter risiko yang berbeda. 

Dari perspektif ESG, sistem itu berpotensi memperluas inklusi keuangan (sosial), meningkatkan transparansi dan pengawasan sistem keuangan (governance), serta menurunkan biaya transaksi ekonomi secara keseluruhan.

Kuncinya terletak pada desain dan pengelolaan risiko.

Bank Indonesia perlu memperkuat kerangka manajemen likuiditas yang mampu merespons pergerakan dana secara real time. Instrumen stabilisasi pasar uang harus dirancang agar tetap efektif di tengah kecepatan transaksi yang meningkat. 

Selain itu, desain rupiah digital perlu menghindari mekanisme yang memungkinkan perpindahan dana besar-besaran secara instan tanpa kontrol.

Edukasi publik juga menjadi krusial. Masyarakat perlu memahami bahwa kemudahan transaksi tidak menghilangkan risiko fluktuasi nilai. Literasi keuangan digital harus berkembang seiring inovasi teknologi.

Pada akhirnya, rupiah digital adalah langkah strategis menuju sistem keuangan yang lebih modern. Modernisasi itu harus disertai pemahaman bahwa kecepatan uang adalah pedang bermata dua. 

Tanpa pengelolaan risiko yang matang, efisiensi bisa berubah menjadi sumber ketidakstabilan. Sebaliknya, dengan tata kelola yang tepat, rupiah digital dapat menjadi fondasi ekonomi Indonesia yang lebih tangguh dan berkelanjutan. (*)

*) Futty Pratiwi adalah mahasiswi Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia.

*) Dewi Hanggraeni adalah dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Fakultas Komunikasi dan Diplomasi, Universitas Pertamina, Jakarta.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: