Sarasehan Jaranan di Sidoarjo Bahas Makna, Struktur, dan Strategi Pelestarian Seni Tradisi
Sarasehan Jaranan yang digelar di Gedung Dekesda Art Center, 31 Januari 2026.-Dekesda-
Terutama dalam menghadapi stigma atau benturan antara tradisi dan agama. “Melawan stigma itu dengan narasi. Bahwa dalam sejarah, kesenian justru menjadi bagian dari proses dakwah dan penyebaran nilai-nilai agama,” ujarnya.
Probo juga mengajak generasi muda untuk terlibat aktif dalam konservasi jaranan. Termasuk melalui kolaborasi digital dan media sosial.
Menurutnya, generasi muda sebagai digital native dapat membantu promosi, inovasi, dan perluasan jejaring agar jaranan tetap relevan.
“Kerukunan dan konsolidasi itu kunci. Seni tradisi sering bergulat dengan ego. Padahal, negara-negara lain seperti Tiongkok, Korea, hingga Rusia maju karena konsisten menjaga tradisinya,” ujar dosen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga itu.
BACA JUGA:Pancasila sebagai Roh Pembangunan dan Identitas Bangsa: Refleksi dari Tanah Reog
BACA JUGA:Dari Reog ke Robot Angklung: Inovasi Menjaga Warisan Budaya di Era Digital
Ia pun menambahkan bahwa mengelola keberagaman budaya Indonesia membutuhkan orkestrasi besar. Melibatkan banyak pihak. Termasuk pemerintah.
Sarasehan Jaranan itu diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat koordinasi. Pun, menyusun strategi bersama untuk memastikan seni jaranan tetap hidup, berkembang, serta bermakna bagi generasi masa kini dan mendatang. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: