Guru Hampir Setara Rasul

Guru Hampir Setara Rasul

ILUSTRASI Guru Hampir Setara Rasul.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BACA JUGA:Memuliakan Kehidupan Guru

Hanya, caranya yang berbeda-beda. Makin ke ranah publik, makin besar dampak yang akan ditimbulkan oleh cara memuliakan yang dilakukan. Makin privat, makin terbatas pula dampak tersebut. 

Karena itu, saat berada di panggung kebijakan publik, posisi seseorang akan pasti memiliki peluang lebih besar, dan bahkan jauh lebih besar, dari siapa pun yang tak berada di panggung kewenangan publik itu. 

Karena itulah, dari tangan pemangku kepentingan publik, akan lahir banyak keberkahan yang bisa dirasakan langsung oleh sebanyak-banyaknya warga masyarakat. Begitu pula yang bisa terjadi dan bisa dirasakan guru atas kebijakan peningkatan tata kelola dan kesejahteraan mereka.  

Oleh karena itu, pantas saja dalam Islam posisi guru begitu penting dan dimuliakan. Guru tidak hanya penting untuk transmisi ajaran Islam, tapi juga sekaligus untuk pemersatu bangsa. 

Dalam pengalaman kesejarahan bangsa Indonesia, sebagai misal, guru harus diakui merupakan simbol dari cara bagaimana bangsa ini melakukan penguatan persatuan di antara elemen bangsa yang beraneka ragam di negeri ini. 

Karena itu, kalau kita berpikir tentang bagaimana mengembangkan indeks pembangunan manusia (IPM) di Indonesia, literasi keagamaan juga menguat. Orang tidak hanya makin mapan dari sisi ekonomi dan pendidikan, tapi juga makin mapan dari sisi indeks keberagamannya. 

Maka, posisi guru, termasuk guru madrasah, sangat penting untuk menjadi perhatian bersama. Lebih-lebih, guru agama tidak hanya menjadi penyampai informasi material, tetapi juga spiritual kepada sebanyak-banyaknya murid. 

Pada konteks itulah, apresiasi patut diberikan setinggi-tingginya terhadap ikhtiar dari Kementerian Agama untuk meningkatkan kesejahteraan guru madrasah yang ada di Indonesia. 

Siapa pun guru madrasah itu, termasuk kategori guru madrasah swasta. Yakni, guru yang diangkat dan diberdayakan oleh masyarakat sendiri. Lalu, ditugaskan di lembaga-lembaga madrasah milik masyarakat itu. 

Satu di antara kebijakan Kementerian Agama, seperti yang disampaikan sekjennya di atas, adalah peningkatan tata kelola dan kesejahteraan melalui skema TPG atau tunjangan profesi guru di atas. 

Menurut hemat penulis, kebijakan itu adalah ikhtiar dan sekaligus solusi yang cukup konstruktif yang sedang diupayakan oleh menteri agama dan sekjen Kementerian Agama itu kepada DPR. Nah, dalam konteks itulah, langkah Kementerian Agama layak diapresiasi bersama. 

Apalagi, bersamaan dengan upaya konkret peningkatan kesejahteraan dimaksud adalah peta jalan pengembangan kelembagaan madrasah di seluruh wilayah di Indonesia. Juga, apalagi keberadaan madrasah hampir merata di hampir semua wilayah di negeri ini. 

Karena itu, bagaimanapun, membangun madrasah sama dengan membangun negeri ini seluas-luasnya. Juga, memajukan umat Islam di negeri ini bisa dilakukan melalui sektor penyelenggaraan layanan pendidikan madrasa di seluruh wilayah. 

Salah satunya melalui peningkatan kesejahteraan guru madrasah. Jadi, membangun madrasah adalah salah satu cara strategis untuk memajukan Indonesia.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: